Kolom

JPO di Kota Banjarmasin

Pemko Banjarmasin saat ini berencana membangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)., ini kata pengamat Ahmad Barjie B

Editor: Irfani Rahman
ISTIMEWA
Ahmad Barjie B, Pemerhati Sosial Keagamaan di Banjarmasin 

Oleh: Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial Keagamaan di Banjarmasin

Pemerintah Kota Banjarmasin berencana membangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Ada lima titik JPO yang akan dibangun, yaitu di Jalan Jenderal Ahmad Yani km 4,5 (sekitar Masjid Besar At-Taqwa dan UIN Antasari), di Jalan Jenderal Ahmad Yani km 2 (depan Duta Mall dan RSUD Ulin), di Jalan Pangeran Samudra (sekitar Masjid Noor), di Jalan Brigjen Hassan Basry (sekitar ULM) dan di Jalan Ahmad Yani km 6 sebelah terminal dari dalam kota.

Menurut Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, detail engineering design (DED) untuk JPO-JPO ini sudah dirancang sejak 2017, jadi bukan latah ikut kota-kota lain. Pengerjaannya tidak sekaligus, di antara yang mendapat prioritas lebih dahulu adalah JPO Jalan Ahmad Yani km 4,5 kemungkinan dimulai 2024. Pembangunan JPO bagian dari upaya Pemko Banjarmasin untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan dan JPO, yang selama ini rentan kecelakaan.

Meskipun rencana pembangunan JPO ini belum diamini dengan suara bulat oleh berbagai kalangan, dan ada yang mengkhawatirkan JPO nanti akan mubazir, merusak atau mengganggu pemandangan, dan mereka memberi alternatif pembangunan pelican crossing saja, namun bagi masyarakat yang merasakan masalah dan berkepentingan tentu sangat mengharapkan JPO segera terwujud.  

Studi Kasus

Sejak 1980-an saya menjadi mahasiswa IAIN/UIN Antasari, dan sekarang menjadi pengurus Yayasan dan Badan Pengelola Masjid Besar At-Taqwa. Karena tidak berencana menulis artikel ini, kami tidak pernah mencatat berapa jumlah korban pejalan kaki di kawasan ini, baik luka-luka bahkan meninggal dunia, karena ditabrak motor roda dua dan mobil. Kecelakaan itu bukan saja ada atau pernah, tetapi relatif banyak dan sering terjadi. Korbannya ada dari kalangan mahasiswa / akademisi IAIN Antasari, jemaah masjid At-Taqwa, dan juga masyarakat umum yang karena aktivitas atau pekerjaannya perlu untuk menyeberang di kawasan ini setiap hari.

Baca juga: Lebih Selektif Tahun Berikutnya

Baca juga: Partai Lakukan Pergantian Bacaleg, KPU Kalsel Imbau Perbaikan Tidak di Injury Time

Saat dibangun Fly Over, kami pernah meminta agar penyeberangan lewat median jalan diperlebar, supaya pengguna jalan leluasa menyeberang. Permohonan ini tidak dikabulkan pihak terkait, dengan alasan kalau diperlebar akan banyak warga yang kurang disiplin akan memutar motornya di jalan dimaksud dengan memotong media jalan yang tidak resmi untuk belokan motor. Pihak terkait menganjurkan pengguna memutar di bawah jembatan Fly Over saja.

Kami juga pernah meminta kepada instansi terkait untuk memberi tanda/rambu lalu lintas penyeberangan, permohonan ini dikabulkan namun ukurannya kecil, tidak besar dan mencolok, sehingga nyaris tidak kelihatan oleh pengguna jalan. Selanjutnya, pengurus masjid berinisiatif sendiri memasang lampu kuning untuk peringatan kepada pengguna jalan (mobil dan motor) agar mengurangi kecepatan di kawasan ini, tetapi tetap saja kurang efektif, kecelakaan tetap tinggi. Bersamaan dengan itu pengurus masjid juga merekrut sejumlah petugas sekuriti untuk membantu lalu lintas setempat dan pengguna jalan, namun risiko tetap belum hilang sama sekali.

Karena keprihatinan yang tinggi, dan juga untuk membantu jemaah yang terkena musibah, Masjid Besar At-Taqwa bahkan sempat mengumpulkan dana untuk diberikan kepada jemaah yang mengalami kecelakaan saat menyeberang, atau meninggal dengan sebab lain. Hal ini sempat berlangsung bertahun-tahun.

Jemaah dan Mahasiswa
Apabila pembaca membandingkan jemaah Masjid At-Taqwa di era 1980-1990-an dengan sekarang, tampak sekali jemaahnya berkurang. Masyarakat lebih memilih salat Jumat dan lima waktu di masjid-masjid lain yang tidak ada keharusan menyeberang jalan. Mereka takut sekali menyeberang dengan berjalan kaki. Bagi yang nekad, harus menunggu beberapa menit, sampai ada peluang menyeberang yang nyaris tidak ada karena padatnya arus lalu lintas (Bahasa Banjarnya: motor kada bapapagatan). Mereka sering sport jantung, karena pengendara motor dan mobil semua melaju dengan kecepatan tinggi, baik ketika akan naik maupun turun dari Fly Over.

Mahasiswa yang tinggal di seberang UIN Antasari juga jauh berkurang. Banyak rumah sewaan sekarang ini kosong tak berpenghuni. Hal ini tidak semata karena UIN Antasari sudah punya kampus baru di Banjarbaru sehingga mahasiswa terbagi, tetapi banyak juga karena faktor kekhawatiran menyeberang jalan, terutama jika harus berjalan kaki. Padahal tidak semua mahasiswa memiliki motor sendiri.

Permasalahan seperti ini mungkin juga dialami oleh kewasan-kawasan lain di mana JPO-JPO akan dibangun. Dengan beberapa alasan di atas, maka pembangunan JPO kiranya merupakan hal yang sangat urgen dan mendesak. Alternatif lain berupa pelican crossing, yaitu zebra cross yang diberi lampu dan tombol bersuara sebagai tanda ada orang menyeberang, rasanya tidak tepat dan tidak efektif, sebab pengguna jalan kita umumnya kurang disiplin, kurang toleran dan lebih mengedepankan kepentingannya masing-masing. Memang di beberapa kota seperti Jakarta ada JPO yang dibongkar dan diganti dengan pelican crossing, seperti dekat Bundaran HI dan dekat Istana Bogor, tetapi urgensi dan masalahnya tentu tidak sama dengan daerah kita.

Harga nyawa manusia tidak ternilai dibanding sekadar hitungan-hitungan teknis dan beberapa kekhawatiran yang belum tentu juga terjadi dan masih bisa diantisipasi. Sementara seringnya terjadi kecelakaan yang memakan korban nyata adanya. Jika JPO jadi dibangun tentu tetap harus memperhatikan kenyamanan, keamanan dan keindahan. (*)

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved