Opini Publik
Ruang Digital yang Bising, Ancaman Tribalisme Politik
Menatap pemilihan umum, Eskalasi politik kian tinggi, diisi dengan pelbagai percakapan dan pertarungan narasi kian terasa kencang di ruang digital
Oleh: Hamzah Jamaludin S.IP, M.Sos, Pengamat Politik dan Demokrasi dari Temu Political Research
BANJARMASINPOST.CO.ID - PERCAKAPAN demokrasi di ruang digital tidak jarang menemukan titik tema di sekitaran partisipasi politik masyarakat dalam menuntun keakraban masyarakat di ruang digital. Tidak jarang perdebatan di ruang digital menjadi secercah tumbuhnya ruang dialog yang hangat antarmasyarakat secara luas.
Dalam dinamika perkembangannya yang terjadi pada saat ini partisipasi politik masyarakat secara luas patut dicermati, mengingat diskursus dan respons yang terjadi terhadap suatu konten yang diunggah di media sosial bisa memantik keingintahuan kita dalam membaca isi, baik itu dari segi penyampaiannya atupun isi konten yang menjadi topik diskursus.
Diskursus di ruang digital terbangun dari beragam faktor masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, ekonomi, budaya, politik maupun dari segi pendidikannya.
Tumbuhnya partisipasi politik masyarakat di berbagai platfrom media sosial terus mengalami intensitas yang cukup tinggi, apalagi hal ini diimbangi dengan masifnya penggunaan media sosial dari latar belakang yang beragam dengan tensi yang tinggi menjelang pemilihan umum di Indonesia.
Menatap pemilihan umum yang menyisakan beberapa bulan lagi. Eskalasi politik yang kian tinggi, diisi dengan pelbagai percakapan dan pertarungan narasi kian terasa kencang di ruang digital. Kondisi ini akan menjadi nuansa yang terus intens terjadi sepanjang tahun ini dan menuju pemilihan nanti.
Kondisi yang tidak kalah menarik untuk terus diikuti ialah di ruang digital. Pascadeklarasinya capres Anies Baswedan yang digagas oleh koalisi perubahan Nasdem, PKS dan Demokrat.
Deklarasinya Prabowo Subianto sebagai bakalan calon presiden 2024. Tidak kalah menarik, deklarasi Ganjar Pranowo yang digagas partai Petahana PDIP pada beberapa waktu yang lalu.
Pencalonan ketiga tokoh elite politik ini menjadi percakapan dengan intensitas yang masif di ruang digital karena kedua tokoh tersebut saat ini menjadi magnet publik yang menarik dibicarakan.
Ruang digital yang bising
Media sosial saat ini menjadi instrumen yang tidak bisa dilepaskan dengan politik. Sebagai alat yang mampu memberikan informasi bagi publik, media sosial diisi dengan masifnya informasi pemberitaan bohong, kampanye politik yang disematkan dengan SARA ( Suku, Ras, Agama) yang tidak jarang hal ini dikemas dengan menyerang satu individu dengan tensi pencemaran nama baik.
Media sosial menjadi pertarungan narasi yang dilakukan oleh masyarakat namun tendesinya lebih terhadap penyerangan individu.
Meskipun di ranah level elite telah terjadi rekonsiliasi, warga negara yang sudah terlanjur terbelah karena adanya upaya penggiringan opini yang buruk di lingkungan masyarakat.
Keakraban warga negara yang satu dengan lainnya terpecah belah, dampak polarisasi politik yang kental berdampak terhadap sistem demokrasi kita yang buruk.
Demokrasi kita kian mundur dan tidak berkembang menjadi polemik yang terus mengendap. Ruang digital tidak lagi diisi oleh keakraban percakapan antarmasyarakat yang rukun, justru timbulnya pembelahan dan sikap skeptis satu sama lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Hamzah-Jamaludin-SIP-MSos.jpg)