Opini Publik
Pintar Memilih Capres
Bagi mereka yang benar-benar peduli, kejelasan ideologi, visi, misi dan strategi seorang capres, menjadi sangat penting.
Oleh: Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd, dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Pengurus Pergunu Kota Semarang
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Semua tentu sudah mengetahui bahwa pada tahun 2024, seluruh rakyat Indonesia akan memilih presiden baru.
Karena itu, rakyat pun tak mau memilih seseorang yang ingin menjadi presiden sekadar untuk gagah-gagahan, atau sekadar mengejar gengsi dan jabatan tinggi.
Bagi sebagian pemilih yang benar-benar peduli dengan masa depan bangsa, memilih calon presiden bisa menjadi momentum untuk merealisasikan cita-cita hidupnya, melalui seorang pemimpin yang akan dipilihnya, yang dibayangkannya seperti Ratu Adil.
Bagi mereka yang benar-benar peduli, kejelasan ideologi, visi, misi, dan strategi seorang capres konstruktif bagi kemajuan bangsa dan negaranya menjadi sangat penting.
Dengan pertimbangan itu, tentu mereka tahu mana capres yang layak mereka pilih.
Bagi sebagian lain, bisa jadi memilih calon presiden adalah kesempatan mendapatkan keuntungan materi (uang) sebanyak-banyaknya.
Mereka menerapkan prinsip yang sangat pragmatis, ada uang ada pilihan. Siapa yang memberi lebih banyak, dialah yang akan dipilih.
Salahkah mereka yang memilih karena pertimbangan pragmatis? Tentu. Tapi rasanya kurang bijaksana juga kalau kita hanya menyalahkan. Keberadaan mereka bisa kita jadikan bahan renungan, bahan refleksi dan introspeksi.
Bisa jadi, munculnya pragmatisme semacam ini merupakan refleksi ketidakpercayaan publik terhadap pemilu dan siapa pun yang akan mereka pilih.
Berulang kali mengikuti pemilu tak berdampak sedikit pun pada perbaikan nasib mereka. Presiden boleh silih berganti, nasib mereka tak pernah berubah.
Pragmatisme juga bisa muncul karena banyak capres yang terbiasa mengumbar janji, menebar iming-iming yang tak pernah ditepati.
Para capres ini merujuk pada pepatah lama, bagaikan menanam tebu di bibir.
Tutur katanya manis, mulutnya penuh gula, tapi tindakannya bagai ular berbisa.
Mereka itulah yang berkontribusi besar pada tumbuhnya apatis publik terhadap pemilu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dosen-Agama-Islam-Poltekkes-Kemenkes-Semarang-Nanang-Qosim-SPdIMPd.jpg)