Opini Publik
Pintar Memilih Capres
Bagi mereka yang benar-benar peduli, kejelasan ideologi, visi, misi dan strategi seorang capres, menjadi sangat penting.
Apa pun penyebabnya, apatisme publik pada pemilu harus diminimalisasi.
Mungkin akan sangat baik jika semua capres kembali menegaskan tujuannya menjadi capres, disertai paparan visi, misi, dan strategi yang akan diterapkan untuk meraih tujuan yang akan dicapainya.
Kedengarannya memang klise, tapi ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan keyakinan.
Realisasikan Cita-cita
Menurut penulis, bahwa tujuan paling ideal menjadi capres adalah merealisasikan cita-cita kemerdekaan republik sebagaimana tertuang dalam pembukaan (preambule) UUD 1945.
Yakni, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Setelah semua capres menegaskan tujuannya masing-masing, biarlah publik yang menilai, capres mana yang paling layak mereka pilih.
Tentu mereka akan mencermati dengan teliti, mana di antara capres itu yang menyampaikan tujuan hanya basa-basi, dengan penuh kesungguhan, atau yang benar-benar dari hati.
Salah satu indikator yang mereka gunakan adalah melihat perilakunya sehari-hari, kata-katanya, serta kepeduliannya pada lingkungan sekitar, pada kehidupan orang-orang miskin, dan pada kebhinekaan yang menjadi penopang kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mereka teliti bukan dalam waktu sekejap, dari sepanjang yang mereka tahu dengan melacak rekam jejaknya masing-masing.
Dengan demikian, capres yang layak dipilih adalah, pertama, yang peduli pada nasib rakyat, pada kebersamaan, dan pada setiap upaya yang dilakukan untuk kemajuan masyarakatnya.
Capres yang mampu memadukan kata dan perbuatannya. Kepeduliannya pada masyarakat tidak dibuat-buat. Pembelaannya pada bangsa dan negara sudah melekat dari masa ke masa.
Kedua, yang biasa hidup apa adanya, tidak merasa hidup sederhana secara tiba-tiba, yang kedekatannya pada rakyat tidak dibalut dengan beraneka citra, tapi benar-benar nyata, tidak hanya secara fisik, tapi secara aspiratif yang bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya.
Ketiga, yang mumpuni, yang punya rekam jejak prestasi yang bisa diukur, bisa dirasakan secara merata tanpa diskriminasi.
Tindakan-tindakannya manusiawi tanpa mengabaikan aspek ketegasan. Ia tahu kapan harus bersikap lunak dan kapan harus bertindak tegas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dosen-Agama-Islam-Poltekkes-Kemenkes-Semarang-Nanang-Qosim-SPdIMPd.jpg)