Jendela
GIBRAN
Sejak menjadi mahasiswa, salah satu penulis-seniman-filsuf yang karya-karyanya saya sukai adalah Kahlil Gibran (1883-1931)
Mujiburrahman Rektor UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak menjadi mahasiswa, salah satu penulis-seniman-filsuf yang karya-karyanya saya sukai adalah Kahlil Gibran (1883-1931).
Dia lahir di Bsharri, Lebanon dari keluarga Kristen Maronit. Kehidupan melemparkannya dari Lebanon ke Boston, Amerika Serikat, kembali ke Lebanon, lalu ke Paris, Perancis, kemudian menetap di Boston hingga wafat dalam usia relatif muda, 48 tahun.
Dia mulai dikenal di dunia Arab dengan nama Jubrân Khalîl Jubrân berkat karyanya al-Ajnihah al-Mutakassirah (Sayap-sayap Patah) sebelum edisi Inggrisnya, Broken Wings, terbit pada 1912.
Pengalaman hidupnya di Timur dan Barat, serta kematian keluarganya yang beruntun hingga cintanya yang kandas, antara lain membuatnya menjadi penulis yang mampu merangkai kata dan kalimat yang indah, dalam dan tajam.
Pada 1923, Gibran menerbitkan karya berjudul The Prophet (Sang Nabi). Menurut catatan satu katalog, buku ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa dunia, dan khusus edisi Amerikanya saja terjual lebih dari sembilan juta kopi.
Karya ini ditulis dalam bentuk esai-puitis, berisi renungan-renungan tentang cinta, perkawinan, kerja, persahabatan, dan lain-lain.
Kiranya tak salah jika kita menduga, Presiden Joko Widodo (Pak Jokowi), ketika muda juga terkesan dengan Kahlil Gibran, karena ia menamai putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka.
Putra presiden ini lahir pada 1 Oktober 1987 di Surakarta. Setelah menjalani pendidikan dasar dan menengah pertama di Surakarta, dia melanjutkan ke Orchid Park Secondary School di Singapura (2002).
Kemudian dia kuliah di Management Development Institute of Singapore (2007), lalu ke University of Technology, Sydney, Australia (2010). Pada 2015, dia menikah dengan Selvi Ananda, Putri Solo.
Setelah bergelut di dunia bisnis, Gibran menjadi politisi. Dia menang dalam Pilkada Surakarta dan dilantik menjadi walikota pada 21 Februari 2021.
Gibran yang kini berusia 36 tahun makin disorot publik setelah minggu lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan, calon presiden dan wakil presiden boleh berusia di bawah 40 tahun asalkan pernah atau sedang menduduki jabatan kepala daerah.
Banyak pihak mengkritik bahwa putusan ini berbau ‘politik dinasti’, antara lain karena Ketua MK adalah ipar presiden. Sekarang dukungan beberapa partai Koalisi Indonesia Maju sangat kuat untuk menjadikan Gibran sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto.
Terlepas dari kontroversi di atas, Pak Jokowi sering mengatakan ke publik bahwa dia memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih jalan hidup sendiri. Seperti kata Kahlil Gibran dalam Sang Nabi: “Anak-anakmu bukanlah untukmu. Mereka adalah putra puteri kerinduan Sang Hidup terhadap dirinya sendiri. Mereka datang melaluimu, tetapi bukan darimu. Meskipun mereka bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Kau boleh memberi mereka cintamu, tapi bukan pikiranmu. Kau dapat memberikan rumah untuk raga mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa mereka tinggal di rumah masa depan. Yang tak dapat kau kunjungi bahkan dalam mimpi.”
Orangtua bagi Kahlil Gibran laksana busur, dan anak laksana anak panah. Busur mengarahkan dan mendorong anak panah melesat, tetapi dalam perjalanannya tergantung pada cuaca dan angin. Keduanya terhubung sekaligus terpisah. Begitu pula hubungan cinta suami-isteri: “Biarkan cinta bergerak senantiasa, bagaikan air hidup, yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa. Saling isilah piala minumanmu, tetapi jangan minum dari satu piala... Bernyanyi dan menarilah bersama dalam sukacita. Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)