Fikrah

Palestina Kini

Orang-orang Israel itu sama sekali tidak takut kepada umat Islam, karena umat Islam hanyalah buih di laut, hanyalah riak air belaka

Editor: Hari Widodo
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - MASIH ingatkah anda? 7 Juni 1981 beberapa buah pesawat F-16 Fighting Falcon dan F-15 Eagle milik Israel menyerang Pusat Reaktor Nuklir Iraq.

Segera saja Iraq mengadukan hal ini kepada Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan PBB pun bersidang dipimpin oleh Pulan dari Mexico, dihadiri oleh sekian negara anggota tetap dan sejumlah anggota tidak tetap.

Sidang mendengarkan pengaduan Liga Arab dan dipaparkan oleh si a ; dengan segala penjelasan mendetail bahwa Israel telah melakukan terror dan melanggar undang-undang internasional. Lalu diakhiri dengan tuntutan agar Dewan Keamanan PBB menjatuhkan hukuman dan sanksi kepada Isarel.

Kemudian sesudah itu berpidatolah utusan Israel membela diri. Dalam pidato pembelaan itu diceritakan ummat Yahudi yang telah mati empat puluh tahun yang lalu dan yang akan mati empat puluh tahun yang akan datang. Ditegaskan ummat Yahudi takut mati karena serangan dunia Arab kalau yang terakhir ini memiliki kekuatan militer.

Apalagi kalau memilki kekuatan nuklir seperti yang dimiliki oleh Iraq, makanya harus dihancurkan demi keamanan ummat Yahudi di dunia.

Sesudah itu berbicara sejumlah utusan. Utusan Inggris mengutuk Israel, utusan Perancis mengecam Israel, utusan Soviet berlepas diri dari semua kerusuhan serangan itu, utusan Amerika Serikat (AS) menyatakan pemerintahnya sama sekali tidak mengetahui sebelumnya tentang rencana serangan Israel itu, tetapi Amerika Serikat tetap memelihara hubungan baik dengan Israel dan tidak setuju jika Israel dijatuhi hukuman dan sanksi. Bila PBB bersikeras untuk itu maka Amerika Serikat akan menggunakan hak vetonya.

Mendengar semua ini, semua utusan yang hadir dalam sidang itu berpandang-pandangan. Semua mafhum apa yang diinginkan oleh Amerika Serikat. Akhirnya tibalah waktu makan, sidang diskors untuk berkonsultasi, sekian, Peace be upon you.

Ini berita yang kita baca dua puluh lima tahun yang lalu di Harian berbahasa Arab “Al Syarq Al Ausath” yang terbit di London, Inggris 8 Juni 1981, (lihat buku “Bunga Rampai dari Timur Tengah” oleh Penulis terbitan Kalam Mulia Jakarta, 1997, halaman 120 dst).

Itu cerita 25 tahun lalu yang ternyata tidak ada bedanya dengan sekarang. Tiga minggu terakhir ini media massa memberitakan serangan Israel ke Gaza, wilayah Palestina, serangan yang bertubi-tubi membuat negeri itu bak neraka.

Ribuan yang tewas dan lebih tiga ribu yang terluka. Arogansi Israel memporak-porandakan Gaza, air dan makanan ditahan masuk, listrik dan komunikasi padam total. Israel juga telah menculik, menangkap dan menahan warga Palestina dan tokoh-tokohnya, nyawa warga Gaza seakan tak berharga, peluru dengan mudahnya dimuntahkan merenggut kehidupan, terlebih anak-anak dan wanita tak berdaya.

Memang gelombang unjuk rasa anti Israel di dunia makin meluas. Tak hanya di Indonesia, Filipina, Malaysia, India, dan Pakistan, tetapi juga di Amerika, Inggris dan berbagai negara Barat lainnya.

Kutukan kecaman dan entah kata-kata apa lagi yang ditujukan oleh manusia cinta damai terhadap negara yang menamakan dirinya “Israel” yang sebenarnya penjajah.

Sidang demi sidang PBB akankah menelurkan hasil keputusan seperti hasil sidang Dewan Keamanan PBB dua puluh lima tahun yang lalu? “Veto”, jika ada keputusan yang merugikan anak mas “Su Amir”. Suara dunia bagi Israel bak angin sepoi-sepoi basah.

Orang-orang Israel itu sama sekali tidak takut kepada umat Islam, karena umat Islam hanyalah buih di laut, hanyalah riak air belaka; seperti yang disinyalir oleh baginda Rasulullah SAW empat belas abad lebih masa yang telah silam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved