Tajuk

Mengangkat Pamor Meratus

UPAYA mengangkat pamor wisata di Banua terus dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Salah satu upaya melalui Geopark Meratus.

Editor: Edi Nugroho
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki
Ilustrasi: Seorang wisatawan saat berswafoto di Taman Hutan Raya Sultan Adam, Kabupaten Banjar yang merupakan salah satu geosite Geopark Nasional Meratus. 

UPAYA mengangkat pamor wisata di Banua terus dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Salah satu upaya melalui Geopark Meratus.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pamor berarti semarak, yang merujuk pada keindahan, kemuliaan, dan sebagainya. Dengan demikian bisa dimaknai, pemerintah daerah ingin menyemarakkan wisata di Kalsel melalui potensi wisata alam yang terkait dengan Meratus.

Sekadar diketahui, Geopark Meratus telah ditetapkan oleh Komite Nasional Geopark Indonesia sebagai Geopark Nasional Indonesia pada tahun 2018. Saat ini juga sedang diajukan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp).

Geopark atau Taman Bumi merupakan kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi. Masyarakat setempat diajak berperan serta melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekonomi dan budaya di sana. Pengelolaannya dalam rangka konservasi, edukasi dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan melalui pengembangan konsep pariwisata yang juga berkelanjutan.

Baca juga: Cerita Anggota Polda Kalsel dari Afrika Tengah, Brigpol Raja Mulai Bisa Bahasa Sango

Baca juga: Menuturkan Pajak dengan Hati

Mengutip Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM), kawasan Geopark Meratus mempunyai luas wilayah 3,645.01 kilometer persegi. Kawasan ini meliputi 6 wilayah yakni Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Lalu Kabupaten Batola, Banjar, Tapin, dan Hulu Sungai Selatan. Total ada 54 situs di kawasan ini yang kini dipromosikan.

Pada 9-10 Desember 2023, untuk menggaungkan kawasan ini, BPGM mengajak sejumlah jurnalis untuk melihat dan menjelajahi sebagian situs Geopark Meratus melalui 4 rute yakni Barat, Selatan, Timur dan Utara. Sejumlah situs yang dikunjungi antara lain Pasar Terapung Lok Baintan,

Museum Wasaka, Kampung Tradisional Sasirangan, Pulau Kembang, pembuatan kapal tradisional Sewangi, dan pemandangan tongkang batu bara.

Seperti disampaikan Kepala Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Hanifa Dwi Nirwana, Geopark Meratus tidak melulu soal bebatuan. Tapi juga sejarah panjangnya. Misalnya, alasan menjadikan Pasar Terapung Lok Baintan sebagai salah satu situs karena aliran Sungai Martapura berasal dari Pegunungan Meratus.

Baca juga: Refleksi Akhir Tahun FKPT Kalsel, 2024 Sasar Generasi Muda dan Perempuan

Terlepas dari sejarah panjang tersebut, sudah selayaknya program mengangkat potensi wisata daerah didukung penuh. Apalagi program ini juga bertujuan menyejahterakan masyarakat sekitar sekaligus melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam. Semoga tidak hanya pamor Meratus yang naik, tapi juga menjaga kelestarian situs-situs Geopark Meratus sebagai harta peninggalan untuk anak cucu kita kelak. Mari kita jaga bersama. (*)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved