Fikrah
Karena Allah Ta’ala
Ali Bin Abi Thalib adalahs e3orang pria cerdas dan pemuda pemberani dan ia diasuh Rasulullah SAW sejak usia 6 tahun
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - ALI bin Abi Thalib yang diasuh oleh Rasulullah SAW sejak kecil (usia 6 th) menjadi anak cerdas. Ia sangat hormat dan segan kepada Nabi Muhammad sehingga ketika tambatan hatinya jatuh pada puteri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, ia tidak dapat berkata apa-apa di depan Rasulullah SAW. Ia tertunduk dan diam seribu bahasa.
Rasul bertanya : “Ada apa gerangan wahai Ali ?” Barulah Ali mampu mengangkat suara: “Wahai Rasulullah, aku teringat dengan Fatimah Az-Zahra”. Rasul menyahut: “Baarakallaahufiik”, artinya semoga Allah memberkahi engkau. Perkataan Rasulullah ini mengisyaratkan Ali diterima pinangannya terhadap Fatimah.
Ali bin Abi Thalib berbadan tegap. Ia menjadi pemuda pemberani. Ia pandai mengorek rahasia ketuhanan. Kecerdasan dan keberaniannya tampak pada pertanyaannya kepada Rasulullah SAW disuatu hari :
“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang paling dekat menuju kepada Allah SWT, paling mudah bagi hamba-Nya dan paling utama disisi-Nya”. Pertanyaan ini sangat jitu sekali. Ia meminta kepada Rasulullah SAW untuk ditunjukkan jalan menuju Allah SWT yang paling dekat dan mudah bagi hamba-Nya, tetapi paling utama disisi Allah SWT.
Rasulullah SAW menjawab:
“Wahai Ali pejamkan matamu, dengarkan aku berzikir tiga kali”. Lalu beliau mengatakan : Laa ilaaha illallaah, Laa ilaaha illallaah, Laa ilaaha illallaah.
Ali r.a mendengarkannya dengan seksama. Kemudian Ali r.a disuruh oleh Rasulullah untuk mengulangnya tiga kali, sedangkan beliau menyimaknya.
Demikianlah riwayat yang saya terima dari guru saya Abu Alawi Said Hamid Alawi Al Qaf di Mekkah al Mukarramah yang mengambil dasar dari riwayat Asy-Syekh Al Arif billah Muhammad al Gauts Ath-Thawi di dalam kitabnya “Al Jawahir al Khams”.
Kalimat tauhid inilah yang menjiwai pribadi Ali ra. Sehingga semua gerak langkah yang ia lakukan tidak lain adalah untuk mencari ridha Allah SWT. Diriwayatkan dalam perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib terlibat perkelahian perang tanding; satu lawan satu dengan musuhnya.
Demikian kebiasaan perang pada waktu itu. Perang tanding diadakan dimana kedua pasukan saling berteriak mensupport pahlawannya masing-masing. Nanti setelah perang tanding usai barulah perang massal berkecamuk.
Ali dan musuhnya pada waktu itu bergumul dan bergulat. Sudah robek-robek pakaian perang beliau, darah pun telah bercucuran, namun rupanya musuhnya itu seorang tangguh, sehingga belum bisa dirobohkannya. Bahkan pada suatu kesempatan, pedang musuh melayang nyaris menebas batang leher beliau. Dengan tangkas Ali mengelak sambil membuat taktik tersendiri sehingga musuhnya itu dapat dijatuhkannya. Lalu bagaikan harimau Ali menindih tubuh musuhnya itu. Senjatanya sudah siap dihujamkan ke jantung sang musuh. Namun dalam detik-detik yang menentukan itu, tiba-tiba musuhnya itu meludahi wajah beliau. Ali marah bukan kepalang.
Tapi aneh, senjatanya ia lemparkan, dan musuhnya ia lepaskan dari kematian.
Sang musuh bertanya dengan heran: “Mengapa tuan urungkan membunuh saya ?”
Dengan menahan rasa marah Ali berkata : “Aku tidak mau membunuhmu akibat marah karena kau meludahi mukaku. Aku tidak mau mengotori perjuanganku dengan benci pribadi, sebenarnya aku ingin membunuhmu karena Allah ”.
Adakah orang-orang yang berjuang dewasa ini untuk menjadi pemimpin dan pejabat didasari nawaitu lillaahi ta’ala (karena Allah) untuk kepentingan umat sehingga aktivitasnya bernilai ibadah? Ataukah untuk ambisi dan kepentingan pribadi sehingga dedikasinya hanya bernilai mencari nafkah ?. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)