Opini

Tahun Baru sebagai Momentum Hedonisme Universal

MOMEN tahun baru selalu disambut dengan perayaan penuh kegembiraan oleh umat manusia di seluruh dunia.

Editor: Edi Nugroho
Net
Ilustrasi Tahun Baru 2024 

Oleh : Satrio Wahono
Magister Filsafat UI. Pengajar Filsafat
di FEB Universitas Pancasila

MOMEN tahun baru selalu disambut dengan perayaan penuh kegembiraan oleh umat manusia di seluruh dunia.

Mungkin karena manusia bersyukur telah berhasil melewati tahun sebelumnya. Sekaligus, merasakan harapan baru bahwa hari esok yang ditandai oleh awal tahun akan menjanjikan kondisi lebih baik.

Padahal ironisnya, setidaknya sejak paruh kedua abad ke-20 hingga saat ini, gerak dunia dari tahun ke tahun sebenarnya justru tertuju ke arah kehidupan yang lebih materialistis, individualistis dan hedonistis. Manusia modern tampak menjadi homo homini lupus yang sibuk mengejar kepentingan dirinya sendiri sambil memangsa manusia lain layaknya serigala.

Contoh-contoh hal ini pun bertebaran. Mulai dari maraknya korupsi untuk memperkaya diri pribadi dan menyengsarakan rakyat, kesenjangan global di mana 10 persen manusia bisa menguasai aset lebih banyak ketimbang 90 persen manusia lainnya, hingga praktik ketidakpedulian sosial di mana manusia terlalu berfokus pada dirinya sendiri (egosentris) dan asyik bermewah-mewahan di tengah kemiskinan yang masih merajalela.

Baca juga: Jangan yang Penting Terpenuhi

Baca juga: Stok Terbatas untuk Nakes dan Lansia, Masyarakat Banjarbaru Diimbau Vaksin Covid-19 Dosis Kelima

Timbullah ungkapan sinis betapa manusia modern kini bersifat hedonis alias hanya bisa bersenang-senang.

Padahal, tahun baru sebagai momen perayaan kebahagiaan universal bisa menjadi titik bagi kita untuk memberikan makna baru bagi istilah hedonis.

Dalam filsafat moral alias etika, hedonisme ternyata tidak sesederhana yang banyak orang kira. Berasal dari kata Yunani, eudomonia, yang berarti kebahagiaan, hedonisme sebenarnya terbagi menjadi dua mazhab.

Pertama, hedonisme egoistis, yakni hedonisme yang menekankan pada kesenangan dan kebahagiaan individu.

Hedonisme ini lantas terpecah lagi menjadi hedonisme aktif dan pasif. Hedonisme aktif mengajarkan bahwa kesenangan sebagai suatu kebaikan harus dipilih, sementara hedonisme pasif mewejangkan bahwa manusia harus berusaha menghindari rasa sakit dan ketidaksenangan.


Di kemudian hari, ajaran hedonisme egoistis ini ditafsirkan bahwa kebahagiaan seyogianya dicapai melalui pemborosan yang berlebih-lebihan. Dan, itulah persepsi umum yang terbentuk dibenak orang saat mendengar kata hedonisme dewasa ini.

Pada titik ini, egoisme etis persis menjadi saudara kembar hedonisme egoistis.

Sebab, egoisme etis pasti melakukan segala sesuatu, termasuk yang etis, atas nama keuntungan individu, segelintir orang, atau satu perusahaan tertentu.

Koruptor, misalnya, rela mengeluarkan dana besar untuk amal sosial karena dia tahu itu akan membentuk citra baik bagi dirinya sehingga masyarakat tidak akan mencurigai, atau bahkan membela, praktik busuknya itu.

Segala ikhtiar dilakukan atas nama kalkulasi pasar, kalkulasi ini untuk itu (tit for tat).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved