Breaking News

Opini Publik

Dokter Tanaman Menunggu Jawaban

Kelahiran Program Studi Profesi Dokter Tanaman diharapkan menghasilkan tenaga profesional yang mampu memecahkan permasalahan di lahan

Tayang:
Editor: Hari Widodo
istimewa
Prof Dr Ir H Ismed Setya Budi MS Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan ULM 

Oleh: Prof. Dr. Ir. Ismed Setya Budi, MS., IPM, Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - REALITA jumlah penduduk yang terus meningkat walaupun berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal untuk menekannya, tentu tak mungkin diabaikan. Karena ini berkaitan erat dengan akan terjadi peningkatan kebutuhan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan utama hidup nyaman.

Padahal hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu menyiapkan kebutuhan pangan manusia tanpa bertanam. Selama kebutuhan hidup manusia hanya didapat dari bertanam maka aktivitas pertanian harus jadi perhatian utama pemimpin negara.

Kenyataannya, tantangan peningkatan produksi pertanian semakin berat, bukan hanya akibat perubahan iklim yang tidak menguntungkan dan alih fungsi lahan yang semakin marak, tapi juga gangguan hama dan penyakit tanaman yang semakin berat.

Sejumlah pengalaman sudah membuktikan terjadinya inflasi membuat negara kacau akibat banyak timbul permasalahan sosial di  masyarakat.

Salah satu faktor utama penyebabnya adalah gangguan pada produksi pertanian yang terjadi tiba-tiba tidak sesuai harapan petani.

Hal ini berdampak pada harga melonjak tajam dan daya beli masyarakat tidak tercapai.

Masalah pertanian sebagai dimensi penting ekonomi negara ditentukan oleh penanggulangan ancaman penurunan produksi pertanian akibat gangguan hama dan penyakit tanaman.

Masalah perubahan iklim yang mengganggu kehidupan tanaman untuk berproduksi secara optimal juga perlu diperhatikan.

Tidak jarang terjadi gagal panen akibat kekeringan atau kebanjiran saat tanaman di lahan sudah berproduksi maksimal.

Disinilah perlunya bantuan dari tenaga profesional yang mengerti permasalahan gangguan hama dan penyakit tanaman, serta bisa memberikan solusi yang tepat saat ancaman gangguan iklim memuncak.

Peningkatan produksi pertanian di Indonesia selalu menjadi fokus utama di dalam budidaya tanaman sejak dahulu sampai sekarang.

Berbagai teknik budidaya tanaman telah diciptakan dan diterapkan di dunia pertanian untuk mencapai tujuan peningkatan produksi secara maksimal.

Teknologi benih sampai teknologi pascapanen produk pertanian terus dikembangkan demi mencapai kecukupan dan ketahanan pangan. Namun realita gangguan hama dan penyakit juga semakin meningkat karena strategi pengelolaan berkelanjutan yang masih terabaikan.

Masalah utama adanya organisme pengganggu tumbuhan, berupa hama, patogen, dan gulma sejak dahulu sampai sekarang selalu timbul dengan intensitas gangguan bervariasi.

Semua tanaman menghadapi masalah gangguan hama dan penyakit, baik di tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun tanaman hutan dan bahkan sampai ke tahapan pascapanen di penyimpanan.

Di Kalimantan Selatan permasalahan hama dan penyakit di lahan sangat banyak dan sering. Banyak faktor penentu yang mengakibatkan hama dan penyakit mulanya rendah tapi tiba-tiba meluluhlantakkan harapan petani karena tanaman gagal panen.

Pada tanaman perkebunan, masalah utama hama penggerek batang tanaman dan penyakit jamur akar putih masih menjadi masalah rumit.

Penyakit buah busuk kakao, penyakit VSD, dan penggerek buah kakao, penggerek buah kopi dan penyakit karat kopi; penyakit busuk batang ganoderma pada tanaman kelapa dan kelapa sawit di banyak perkebunan; hama sexava-artona-kumbang badak tanaman kelapa; gulma di sawah, perkebunan juga masalah yang belum tuntas dicarikan solusi berkelanjutan yang bisa menjamin tersedianya produk pertanian  berkualtias untuk manusia hidup sehat.

Pada tanaman hortikultura, hama penggerek daun dan penyakit moler pada tanaman bawang merah, penyakit virus kuning, penyakit antraknosa buah tanaman caba; penyakit layu panama dan layu fusarium pada pisang; penyakit kanker batang dan lalat buah tanaman jeruk sering terjadi pada hampir semua komoditas pertanian primer yang sangat kita perlukan setiap saat.

Khusus tanaman padi sebagai pemasok utama pangan kehidupan juga mengalami masalah berat, karena berbagai hama, dan penyakit yang selalu ada tiap musim. Selain organisme pengganggu tumbuhan yang bersifat biotik, juga ada yang bersifat abiotik, dan ini terjadi di banyak tanaman di berbagai daerah.

Semua permasalahan tersebut akan selalu ada dan berpengaruh pada semua tanaman budidaya di Indonesia. Hal ini membutuhkan keterampilan khusus di dalam mengidentifikasi dan memutuskan cara pencegahan maupun pengelolaannya.

Oleh karena itulah, keberadaan tenaga profesional yang berperan seperti dokter pada manusia dan dokter hewan sangat diperlukan dalam memecahkan masalah tersebut.

Adanya dokter tanaman sangat dibutuhkan, dengan asumsi untuk mengurus kesehatan manusia ada dokter manusia dan terhadap hewan ada dokter hewan; sedangkan terhadap tanaman belum ada dokter tanaman. Padahal manusia bisa sehat bila yang dikonsumsi adalah produk pertanian yang sehat dan menyehatkan.

Kelahiran Program Studi Profesi Dokter Tanaman diharapkan menghasilkan tenaga profesional yang mampu memecahkan permasalahan di lahan dengan hasil memuaskan semua pihak.

Semua ini mengingat permasalahan hama dan penyakit tanaman di lahan sangat kompleks dan beragam. Penyiapan sumber daya manusia andal oleh Perguruan Tinggi tidak hanya didapat dari pemberian materi di ruangan kuliah, tapi sangat penting untuk melihat realita berbagai kejadian di lapangan dan pengalaman di instansi terkait.

Tak mustahil patogennya sama tapi gejala yang ditimbulkan berbeda, dan sebaliknya patogen berbeda tapi gejalanya sama. Inilah perlunya dokter tanaman sebagai tenaga ahli profesional yang mampu mengatasi masalah OPT dan memberi solusi tepat sebelum gagal panen terjadi.

Mengingat berbagai permasalahan hama dan penyakit di lahan sangat kompleks maka diperlukan mitra sebagai tempat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman calon dokter tanaman. Saatnya semua pihak bersinergi agar keberadaan dokter tanaman dirasakan manfaatnya.

Instansi pemerintah yang bisa menjawab kebutuhan terhadap kualitas pendidikan profesi dokter tanaman seperti Kementerian Pertanian, Balai Karantina Pertanian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balai Penelitian Tanah, Balai Penelitian padi, Dinas Pertanian provinsi hingga kabupaten, Balai Proteksi Tanaman, Dinas Perkebunan, Perum Bulog, PT  Perkebunan Nusantara,  PT Inhutani, dan lainnya.

Pihak swasta juga dapat diharapkan dapat memberikan jawaban peningkatan kompetensi dokter tanaman profesional seperti perusahaan-perusahaan swasta besar yang ada di tiap daerah.

Saatnya kontribusi banyak pihak diperlukan untuk melahirkan Pendidikan Profesi Dokter Tanaman yang hebat. Kita berharap kedaulatan pangan jangan sampai terabaikan karena usaha peningkatan produksi gagal. Pertanian hebat negara kuat berdaulat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved