Tajuk

Arena Papan Catur Kaum Elite

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 jadi terobosan dalam pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia. Baru pada tahun ini, Pilkada di level

Editor: Edi Nugroho
Istimewa Tribun Jogjakarta
Ilustrasi Pilkada Kalsel 2024. 

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 jadi terobosan dalam pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia. Baru pada tahun ini, Pilkada di level provinsi dan kabupaten/kota benar-benar digelar secara masif.

Pilkada kali ini digelar di 37 provinsi, 415 kabupaten dan 93 kota di Indonesia. Jumlah daerah yang melaksanakan jauh lebih banyak dibanding Pilkada serentak pada 2015, 2017, 2018 dan 2020 yang lebih parsial.

Sebut saja pada Pilkada serentak 2015 hanya dilakukan di 9 provinsi dan 260 kabupaten/kota lalu pada Pilkada serentak 2017 sebanyak 7 provinsi dan 94 kabupaten/kota terlibat. Selanjutnya di 2018 ada 17 provinsi dan 154 kabupaten/kota, dan pada 2020 digelar di 9 provinsi dan 508 kabupaten/kota.

Meski Pilkada serentak 2024 jadi yang paling masif, namun euforia Pilkada di Kalsel khususnya pemilihan calon gubernur dan calon wakil gubernur (Pilgub) tak begitu dirasakan. Pilgub Kalsel kali ini diikuti dua pasangan calon (Paslon) yakni H Muhidin-H Hasnuryadi Sulaiman sebagai paslon nomor urut 1, lalu Hj Raudatul Jannah-Akhmad Rozanie sebagai paslon nomor urut 2.

Baca juga: Cegah Korupsi di Legislatif, DPRD HSU Tandatangani Komitmen Antikorupsi

Baca juga: Debat Publik Pertama Paslon Pilkada Kotabaru 2024 Sukses, Begini Perdebatannya

Jika berkaca pada Pilgub Kalsel 2019 lalu yang jadi pertarungan Paslon H Sahbirin Noor - H Muhidin dan Paslon H Denny Indrayana - Difriadi Darjad, suasana persaingan begitu kental dirasakan.

Adanya kekurangan dalam langkah dan kebijakan pemerintahan Paman Birin kala itu termasuk soal pengelolaan sumber daya alam dikorek habis oleh kubu penantang. Sebaliknya, fakta soal sosok H Denny Indrayana yang belum punya pengalaman memimpin daerah jadi topik yang dimunculkan kubu petahana.

Persaingan sengit tersebut juga tercermin pada hasil Pilgub Kalsel 2019, dimana paslon Paman Birin dan H Muhidin hanya menang tipis dari Denny dan Difriadi. Namun pada Pilgub Kalsel 2024, suasana persaingan sengit demikian tak lagi dirasakan. Aroma persaingan hanya sempat mencuat saat proses dinamika perebutan dukungan dari para partai politik pengusung demi mengamankan tiket untuk pencalonan.

Saat ini perhatian masyarakat termasuk pemilih di Kalsel pun justru tersita oleh kasus dugaan suap di tubuh pemerintahan provinsi yang juga sempat menyeret Paman Birin. Di sisi lain, langkah kompak kedua paslon di Pilgub Kalsel 2024 yang tak kunjung memanfaatkan kesempatan yang diberikan KPU untuk menggelar kampanye akbar alias rapat umum juga makin membuat suasana terkesan hambar.

Kondisi ini seolah menyiratkan bahwa Pilgub Kalsel kali ini bak hanya menjadi arena papan catur kalangan elite. Hal ini nantinya bisa saja tercermin dan dilihat dari angka partisipasi pemilih pascapemungutan suara. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved