Tajuk

Memutus Serangan Tikus

Baru-baru ini petani jagung di Desa Gunungraja Kabupaten Talahlaut resah oleh serangan hama tikus, tak hanyaitu buruh tani pun alami hal serupa

Editor: Irfani Rahman
BPOST GROUP/BANYU LANGIT ROYNALENDRA NARESWARA
PETANI jagung Gunungraja, Fadli, menunjukkan tanaman jagungnya yang rusak parah oleh serangan hama tikus, Kamis (26/12) pagi. Puluhan hektare tanaman jagung diserang tikus 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SERANGAN tikus kini meresahkan petani jagung di Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel). Panen mereka pun terancam gagal.

Tak hanya petani, kalangan buruh tani setempat juga ikut resah. Pasalnya, banyak dari mereka yang juga mengandalkan penghidupan dari hasil mengambil upah sebagai buruh tani di kebun jagung. Bahkan pada rantai usaha tani jagung, jumlah buruh taninya jauh lebih banyak atau berlipat ganda jumlahnya.

Tikus memang menjadi momok bagi petani. Bahkan, muncul sejumlah mitos terkait tikus ini. Seperti di wilayah selatan Kabupaten Gunung Kidul, masih mempercayai mitos tikus sebagai jelmaan dari prajurit Penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul.

Berdasarkan sejumlah sumber perubahan ekosistem dapat menyebabkan ledakan populasi tikus. Perubahan ekosistem dapat terjadi secara alami maupun karena kegiatan manusia.

Beberapa contoh perubahan ekosistem secara alami adalah perubahan musim dan bencana alam seperti gunung meletus, gempa, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami, angin ribut, juga banjir.

Sementara itu, perubahan ekosistem yang disebabkan oleh kegiatan manusia dapat berupa pengolahan tanah sawah atau kebun yang mengganggu habitat tikus.

Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan peningkatan populasi tikus di ekosistem sawah atau kebun di antaranya, tersedia pakan, yaitu padi atau jagung, sehingga hewan pengerat ini dapat berkembang biak dengan cepat.

Pola tanam yang terus menanam sehingga siklus hama ini tidak terputus. Kemudian, tidak ada antisipasi pembersihan lahan dan pengemposan lubang tikus sebelum tanam. Sawah atau kebun berdekatan dengan hutan, sungai, atau semak belukar yang tidak terurus.

Terakhir, pemangsa alami seperti burung hantu dan ular, sudah semakin punah akibat perburuan liar.

Nah, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mengendalikan hama tikus seperti membersihkan semak belukar dan gulma, membongkar lubang tikus, memperbaiki pematang, menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing, dan burung hantu hingga mengatur pola tanam dengan cara berotasi antara padi dan palawija.

Bahkan, ada pola yang menarik yakni menggunakan bau jengkol untuk menghalau tikus. Selain itu, ada pula yang menggunakan alat dengan tenaga solar cell untuk mengusir tikus. Nah, para petani tentunya tidak bisa menanganinya sendiri.

Perlu ada bantuan dari pemerintah. Jangan sampai, ketika petani berhasil dalam pertaniannya, pemerintah muncul untuk mengklaim keberhasilannya. Tapi saat petani terpuruk karena hama tikus, pemerintah malah cuek tak begitu membantu. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved