Opini Publik

Talenta Unggul

Menarik untuk dicermati Liputan Investigasi Kompas pada Selasa (4/12/2024), yang membahas tentang “kaburnya” talenta unggul Indonesia ke Singapura

Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID/MUHAMMAD RAHMADI
Prof H Sutarto Hadi 

Oleh : SUTARTO HADI Alumnus Universitas Twente, Belanda, Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menarik untuk dicermati Liputan Investigasi Kompas pada Selasa (4/12/2024), yang membahas tentang “kaburnya” talenta unggul Indonesia ke Singapura.

Catatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, selama 2019-2023, jumlah WNI yang pindah menjadi warga Singapura hampir 1.000 orang per tahun (Kompas, 4/12/2024).

Fenomena brain drain nampaknya terus berlanjut menimpa negeri ini. Brain drain adalah hengkangnya SDM unggul dari negara asalnya ke luar negeri untuk mendapatkan kesempatan berkarir lebih baik, lingkungan kerja yang lebih mendukung untuk berkembang, penghasilan lebih tinggi, dan jaminan sosial di masa depan.

Saya teringat dengan Hadi Susanto, karib saya saat menempuh studi S3 di Universitas Twente, Belanda antara 1998 hingga 2002. Dia adalah sosok fenomenal dan talenta unggul Indonesia dalam bidang matematika.

Anak Lumajang ini menamatkan S1 dari Jurusan Matematika ITB. Karena kecemerlangannya, ia ditarik ke Universitas Twente, Belanda, untuk mendalami matematika terapan. Gelar master diperolehnya pada 2003, kemudian Ph.D. disabet pada 2006.

Setamat dari Belanda ia hijrah ke Amerika Serikat, sebagai Visiting Assistant Professor di Jurusan Matematika dan Statistika, Universitas Massachusetts, yang dilakoninya hingga Desember 2007.

Kemudian Hadi menjadi dosen di School of Mathematics Science, Universitas Nottingham, Inggris.

Pada 2013, ia menjadi dosen senior di Universitas Essex, dan akhirnya berlabuh di Jurusan Matematika di Universitas Khalifa, Uni Emirat Arab (UEA).

Saat ini ia sudah mencapai karir tertinggi sebagai guru besar di universitas tersebut.

Ada lagi yang tidak kalah hebat. Sosok tersebut adalah Anak Agung Julius. Ia tamatan Teknik Elektro ITB. Menyelesaikan M.Sc. dan Ph.D. dari Universitas Twente.

Saat ini, ia menjadi guru besar dalam bidang Electrical, Computer and Systems Engineering, Rensselaer Polytechnic Institute, New York. 

Pada saat memulai karir di Institut Politeknik Rensselaer, Agung memperoleh award dari National Science Foundation (NSF) sebesar 536.785 dolar AS.

Nilai uangnya fantastis, yakni kurang lebih 8,5 miliar rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk penelitian selama 5 tahun dalam bidang Computational Analysis of Hybrid Systems.

Sebuah penghargaan bergengsi. Bahkan peneliti muda Amerika pun tak gampang untuk meraih penghargaan dan pengakuan prestisius seperti itu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved