Fikrah
Datang Haji
Haji bukan sekadar gelar, tapi sebagai pengingat bahwa perjalanan suci itu membawa amanah: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih rendah hati
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - “ALHAMDULILLAH, datang haji,” bisik seorang ibu sambil menyeka air matanya. Bukan hanya karena telah kembali, tapi karena telah menjadi tamu istimewa di rumah Allah.
Sapaan “Pak Haji” dan “Bu Hajjah” pun mulai terdengar, bukan sekadar gelar, tapi sebagai pengingat bahwa perjalanan suci itu membawa amanah: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Ilahi.
Muncul pula pertanyaan-pertanyaan beragam yang dilontarkan setelah datang haji. Misalnya, berapa kali pak haji mencium hajar aswad? sempatkah salat di Hijr Ismail? sempatkan ke Jabal Tsur? adakah jalan-jalan ke Jabal magnet? sudahkah merasakan minum susu onta? dan berbagai macam pertanyaan. Seperti sudah menjadi budaya, bahwa pertanyaan-pertanyaan akan selalu muncul.
Herannya ada masyarakat berucap “sayangnya ae sudah tulak haji tapi kada mancium hajar aswad, kaya kada bahaji” (sayang berangkat haji tapi tidak mencium hajar aswad, seperti tidak berhaji). Padahal mencium hajar aswa hanyalah kesunnahan saja, namun banyak yang belum faham.
Diceritakan seorang haji ditanya: “Apakah sewaktu di Tanah Suci, pak haji pernah memakan buah tasbih?”. Pak haji terperanjat, sewaktu di tanah suci ia tidak pernah menemukan buah tasbih, yang ada cuma biji tasbih. Karena gengsi Pak haji menjawab: “Sewaktu saya di tanah suci, buahnya belum matang.”
Naser Khosrov seorang penyair Parsi, mendialogkan tentang haji antara seorang penanya dengan seorang pak haji.
Penanya: “Ketika Anda melepaskan pakaian, berganti dengan pakaian ihram yang putih bersih, apakah Anda juga melepaskan segala atribut duniawi, jabatan, harta dan kekayaan, ilmu dan kepiawaian juga Anda tanggalkan. Lalu Anda merasa berhadapan dengan Allah tidak memiliki apa-apa? Ketika Anda ucapkan labbaikallahumma labbaik, betulkah Anda ikhlas memenuhi panggilan-Nya seputih kain ihram yang Anda lekatkan di badan?”
Pak haji menjawab : “Tidak, justru yang terpikir olehku bagaimana mengamankan uang belanja yang aku bawa dan barang-barang yang aku tinggalkan di penginapan.”
Penanya: “Ketika Anda wukuf di Arafah, apakah Anda betul-betul merasa berhadapan dengan Allah, sehingga Anda istigfar dan taubat; mengenang segala dosa dan kemaksiatan, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya?”.
Pak haji menjawab : “Tidak, justru yang terpikir olehku bagaimana aku bisa istirahat dan qadha hajat di padang Arafah dengan nyaman; dan pikiranku kacau mendengar sarana transportasi yang tidak mencukupi, dan aku bingung salat apa yang harus dikerjakan, jamak-tamam, jamak-qasar, atau salat tamam pada waktunya seperti yang diperdebatkan oleh para ulama”.
Penanya: “Ketika Anda melontar jumrah, apakah Anda juga bertekad melontar pikiran-pikiran busuk dan setan-setan yang ada di benak dan dada Anda?”
Pak haji menjawab : “Tidak, malah yang aku pikirkan bagaimana aku bisa melontar dan bisa kembali selamat ke kemah di tengah gelombang arus manusia, dan untuk itu sesekali aku menyikut dan menginjak kaki orang lain.”
Penanya: “Ketika Anda tawaf di Baitullah dan terakhir berdiri di Multazam, apakah Anda betul-betul merasa berada di hadapan Allah lalu Anda memohon kesalamatan dunia dan akhirat. Bukan saja buat Anda dan keluarga Anda; tapi juga buat semua umat beriman dimanapun mereka berada.”
Pak haji menjawab : “Tidak. Justru yang aku resahkan apakah tawafku ini sah atau tidak karena barangkali aku sudah menyentuh atau disentuh oleh perempuan yang bukan mahram.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)