Fikrah
Ketenangan Jiwa yang Didambakan
Saat ini ketenangan jiwa amat didambakan oleh manusia dimanapun mereka berada. Dicari-cari oleh mereka yang tinggal di rumah megah dan istana
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID- KETENANGAN jiwa amat didambakan oleh manusia dimanapun mereka berada. Dicari-cari oleh mereka yang tinggal di rumah megah dan istana, diusahakan oleh para hartawan yang berteduh di vila-vila, tapi juga diimpikan oleh si miskin yang tinggal di gubuk-gubuk di desa-desa.
Banyak di antara mereka yang mengira ketenangan jiwa didapat pada hal-hal yang bernilai materi. Namun fakta dan data berbicara lain.
Mereka yang bergelimang harta, duduk di atas singgasana tahta, atau hidup di alam bebas dengan wanita, terutama di negeri-negeri yang sudah dikatakan maju, apakah ketenangan dapat tercipta? Ternyata semuanya hanyalah hampa.
Mereka keliru mencarinya, laksana pencari mutiara yang pergi ke padang sahara, bukan mutiara yang ia temukan tetapi hanyalah fatamorgana.
Manusia pun rela mencari ketenangan di tempat-tempat yang dianggap bisa memberikan kenyamanan dan ketentraman. Mereka pergi tetirah kemana-mana, ke taman-taman dan ke tempat-tempat hiburan.
Mereka yang tinggal di tepi pantai pergi ke puncak gunung, dan yang tinggal di gunung pergi ke tepi pantai. Mereka yang tinggal di kota-kota pergi ke desa-desa, dan lain sebagainya. Namun disayangkan harta habis dan tenaga terkuras. ketenangan jiwa belum ditemukan.
Malah ada yang berakibat fatal mengambil jalan pintas, mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Dahulu bunuh diri hanya berupa berita yang kita dengar nun jauh disana, tetapi kini sudah merambah desa-desa kita. Mengapa?
Rupanya masih ada yang kurang, kekurangan inilah yang kadang-kadang tidak disadari manusia, yaitu Iman.
Syekh Yusuf Al-Qardhawi dalam buku “Al-Iman Wa Al-Hayat” menceritakan pengalaman seorang dokter berkebangsaan Amerika, katanya : “Sewaktu muda, saya membuat sebuah tabel kebutuhan manusia dalam hidup, yaitu kesehatan, kasih sayang, kemampuan intelektual, kekayaan, dan ketenaran. Tabel ini dibaca oleh seorang tua, lalu ia berkomentar bahwa apa yang saya tulis itu belum lengkap. Lalu ia menulis kata ketenangan jiwa. Waktu itu saya belum begitu meyakini hal itu, tetapi setelah saya menggeluti dunia kedokteran hampir setengah abad barulah saya yakin apa yang ia katakan bahwa manusia sangat membutuhkan ketenangan jiwa”.
Ketenangan jiwa datangnya dari Allah SWT, yang Dia anugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman kepada-Nya; tidak diberikan kepada mereka yang mengingkari-Nya.
“Dialah (Allah) yang menurunkan ketenangan di dalam jiwa mereka yang beriman, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang sudah ada). (QS. Al Fath ayat 4).
Ketenangan jiwa yang dikehendaki menurut Islam, bukanlah sekadar membuat hidup manusia tenang lantaran pasrah pada keadaan, laksana air yang tenang karena tergenang di suatu tempat, sudah tidak tahu lagi dari mana asal dan kemana tujuannya.
Tidak demikian. Yang dikehendaki ialah tenangnya jiwa dan tenteramnya hati dalam menghadapi dan memecahkan problem tanpa kecut dan skeptis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-MUI-Kalimantan-Selatan-KH-Husin-Naparin-jumat-28072023.jpg)