Fikrah

Salat Tak Sekadar Ibadah

Salat adalah sarana berdialog dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya : “Salat Aku-bagi dua bagian antara Aku dan Hamba-ku

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
ISTIMEWA
Ketua MUI Kalimantan Selatan, KH Husin Naparin. 

KH Husin Naparin Lc MA

Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- SALAT merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Ibadah itu adalah tiang agama yang menjadi salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan, baik bagi mukimin maupun dalam perjalanan.

Tak sekadar ibadah. Salat adalah sarana berdialog dengan Allah SWT. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman yang artinya : “Salat Aku-bagi dua bagian antara Aku dan Hamba-ku.

Apabila seorang hamba berkata: “Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang)”. Allah SWT menjawab : “Zakarani Abdi (Hamba-Ku telah mengingat-Ku)”.

Bila sang hamba berkata: “Alhamdulillahirabbil-’alamin (Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam)”. Allah SWT menjawab: “Hamidani ‘abdi (Hamba-Ku telah memuji-Ku)”.

Bila sang hamba berkata: “Arrahmanirrahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)”. Allah SWT menjawab :“Atsna’alaiyya ‘abdi (Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku)”.

Bila sang hamba berkata: “Maliki yaumiddin (Raja yang menguasai hari pembalasan)”. Allah SWT menjawab : “Majjadani ‘abdi (Hamba-Ku telah memuliakan-Ku)”.

Bila sang hamba berkata: “Iyyaka-na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami memohon pertolongan)”. Allah SWT menjawab : “Haza baini wa baina abdi, wali ‘abdi ma sa’ala (Ayat ini antara Aku dan hamba-Ku; dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta)”.

Bila sang hamba berkata: “Ihdinashshirathal-mustaqim, shirathallazina ‘an’am ta’alaihim ghairil-magdubi ‘alaihim waladhdhallim (Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang sesat)”. Allah SWT menjawab: “haza li’abdi wa li’abdi ma sa’ala (Ini semua untuk hamba-Ku dan hamba-Ku berhak atas apa yang ia minta).” ( Al-Fakhru Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir, Juz I hal. 270).

Nabi SAW bersabda pula yang artinya: “Seorang hamba, paling dekat dengan Tuhannya ialah pada waktu ia sedang sujud, perbanyaklah do’a olehmu pada waktu itu.” (HR. Muslim Abud Daud dan Nasa’i).

Dialog dengan Tuhan memerlukan jiwa dan raga yang bersih. Salat itu sendiri adalah sarana pembersih jiwa dan raga, pembersih diri lahir dan batin. Bersih-bersih lahiriyah tampak jelas dengan adanya kewajiban wudhu; mandi janabat; bersiwak; menyucikan badan, pakaian dan tempat salat dari najis. Bersih-bersih batiniyah adalah lanjutan dari bersih-bersih lahiriyah, yaitu bersihnya hati daripada penyakit hati seperti riya (pamer), hasad (dengki), culas dan lain-lain.

Rasul SAW mengajak para sahabat befikir: “Seandainya di depan rumah anda ada sungai, setiap hari anda mandi disungai itu lima kali dalam sehari semalam, apakah masih tersisa kotoran di badan anda?” Para sahabat menjawab: “Tidak ada lagi wahai Rasul.”.

Mendengar jawaban mereka itu, lalu Rasulullah SAW menimpali dengan ucapan beliau : “Demikianlah shalat fardhu, dengan shalat Allah SWT menghapus kesalahan-kesalahan anda.” (HR. Muttafaq Alaih).

Suatu hari Rasulullah SAW menggoyang-goyang ranting sebatang kayu yang sudah mati, sehingga daun-daunnya jatuh berguguran dengan mudah. Lalu ia berkata kepada seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi: “Wahai Salman, apakah perbuatanku ini tidak menarik perhatianmu”.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved