Fikrah

Refleksi Musibah

Saat i ni bangsa Indonesia masih berduka atas terjadinya musibah yang menimpa bumi Andalas, Sumatera.

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
istimewa
KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- SELURUH bangsa Indonesia masih berduka atas terjadinya musibah yang menimpa bumi Andalas, Sumatera. Menurut harian berita Tempo, tercatat 969 korban meninggal dunia dan sebanyak 894.101 jiwa pengungsi.

Sungguh menyayat hati, ini merupakan angka yang tidak sedikit jumlahnya dan tak terbayang jika musibah ini menimpa kita semua. Pada momen duka ini, tidak cukup hanya dengan mengirimkan bantuan. Kita wajib melakukan refleksi spiritual dan sosial yang mendalam atas musibah yang telah terjadi atas saudara-saudara kita.

Apa pesan Tuhan di balik gejolak alam ini? Dalam Islam musibah bukanlah sebuah kebetulan atau juga kutukan, melainkan episode takdir yang penuh hikmah dan sarat makna akan pembelajaran bagi umat manusia tanpa kecuali. Pesan pertama adalah pembuktian hakikat Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un yang selalu diucapkan ketika mendengar kabar duka. Hakikatnya musibah adalah konfirmasi paling nyata dari kalimat tersebut, “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali”.

Harta, keluarga, kekuasaan atau jabatan, bahkan tubuh yang kita miliki sekalipuan, sejatinya hanyalah titipan dari Tuhan. Musibah datang untuk mengambil kembali sebagian titipan itu, mengingatkan bahwa kita tidak abadi. Ini memaksa kita untuk fokus pada bekal yang kekal, yaitu amal saleh.

Pesan kedua adalah menguji akan kebenaran iman seseorang. Musibah tak lain juga sebagai alat uji Allah untuk membedakan antara mukmin sejati dan mukmin yang lemah. Ujian yang menimpa para korban mengukur tingkat kesabaran dan keikhlasan mereka. Allah berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2).

Bagi yang lulus ujian dengan kesabaran, mereka mendapatkan janji agung, sebagaimana sabda Nabi yang artinya, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Pesan ketiga adalah musibah sebagai kafarat atau penghapus dosa. Setiap sakit, lelah, duka, atau kerugian yang diderita seorang mukmin akibat musibah berfungsi sebagai pembersih dosa-dosa kecil yang mungkin luput dari perhatian.

Rasulullah bersabda yang artinya “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari)

Pesan keempat adalah musibah sebagai tadzkirah atau peringatan bagi yang selamat darinya, baik di tempat tersebut atau tempat lain.  Bagi yang selamat harus bertanya pada dirinya sendiri “Apa yang sudah aku siapkan andai musibah itu menimpaku?” Ada yang mengatakan musibah adalah alarm dari alam untuk segera sadar diri agar tidak merusaknya.

Selain pesan tersebut, musibah juga menguji tanggung jawab sosial kita sebagai satu bangsa dan satu umat. Kita menyaksikan dengan nyata bagaimana solidaritas yang mengalir deras dari seluruh penjuru Indonesia adalah manifestasi keindahan ukhuwah (persaudaraan).

Rasullah bersabda yang artinya “Tidaklah beriman sempurna seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari).

Tanggung jawab kita juga bukan hanya donasi di awal. Fase pemulihan (recovery) dan pembangunan kembali (reconstruction) membutuhkan komitmen jangka panjang. Kita harus memastikan bantuan tidak hanya sampai, tetapi juga tepat sasaran untuk memulihkan mata pencaharian dan mental para korban.

Banyak dari bencana longsor dan banjir bandang di Sumatera erat kaitannya dengan deforestasi, alih fungsi lahan yang serampangan, dan eksploitasi alam yang berlebihan. Musibah ini adalah teguran atas peran kita sebagai khalifah di bumi. Allah mempercayakan bumi ini kepada kita untuk dikelola, bukan dirusak. Allah SWT berfirman yang artinya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Refleksi ini harus diwujudkan dalam kebijakan lingkungan yang ketat, gerakan penghijauan yang masif, dan kesadaran pribadi untuk hidup harmonis dengan alam. Meskipun kita percaya pada takdir, kita diperintahkan untuk berusaha keras dan bersiap siaga (ihtiyat). Kesiapsiagaan bukan menentang takdir, tetapi bagian dari ketaatan kepada perintah untuk berikhtiar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved