Kolom

Nilai Al-Qur’an

Kehidupan Rasulullah dipenuhi dengan hidayah dari Allah SWT. Hidayah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
ISTIMEWA
Ketua MUI Kalimantan Selatan, KH Husin Naparin. 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUNGGUH kehidupan Rasulullah dipenuhi dengan hidayah dari Allah SWT. Hidayah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an, yang artinya bahwa setiap perkataan dan perbuatan Rasulullah selalu berdasarkan Al-Qur’an. 

Maka tak heran dalam sebuah hadis yang diriwayatkan imam Muslim ketika ditanya tentang akhlak Nabi, Sayyidatina Aisyah r.ha menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an, bersikap ridha karena ridha-Nya, murka karena murka-Nya”.

Jawaban Aisyah r.ha tersebut menunjukkan, bahwa cara termudah untuk meneladani kehidupan Rasulullah adalah mengamalkan Al-Qur’an dengan belajar kepada para ulama yang istiqamah dalam ajaran Islam.

Namun seakan sudah menjadi rahasia umum, bahwa respons umat Islam sekarang terhadap Al-Qur’an sangat rendah. Kenyataannya, orang-orang di luar Islamlah giat mengkaji Al-Qur’an, yang seharusnya umat Islam yang memegang semangat Al-Qur’an.

Lebih dikhawatirkan lagi, jangan sampai umat Islam masuk dalam tingkatan mengabaikan Al-Qur’an, sebagaimana pengaduan dan kekhawatiran Rasulullah dalam Q.S. Al-Furqân [25]: 30. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan”.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Alex Inkeles, seorang nonmuslim berkebangsaan Inggris. Dia menyampaikan hasil risetnya, bahwa maju dan berkembang pesatnya negara-negara besar di Barat dan Eropa adalah dengan menjalankan nilai-nilai Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad SAW pada setiap lini kehidupan.

Meskipun mereka tidak mengimaninya tapi mereka mengetahui kunci kesuksesan ada di dalamnya. Nilai-nilai Al-Qur’an yang mereka jalankan bahkan menjadi budaya mereka.

Pertama, mereka sangat menghargai waktu dan memiliki budaya disiplin waktu yang tinggi, sehingga semua program-program berjalan baik. Ini tak lain adalah cerminan dari surah al-‘Ashr tentang pentingnya waktu dan harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Artinya “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Kedua, mereka memiliki budaya kerja keras dan tanggung jawab yang tinggi, sehingga  mencapai produktifitas tinggi yang sangat menguntungkan mereka. Ini tak lain adalah cerminan surah at-Taubah: 105 yang artinya, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Ketiga, mereka memiliki orientasi hidup ke depan bukan banyak menengok ke belakang. Mereka terbiasa memprogram masa depan sehingga masa depan mereka lebih baik dari hari kemarin. Ini merupakan cerminan surah al-Hasyr:18 yang artinya, “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Keempat, mereka memiliki kemampuan untuk menjalin persahabatan dengan pihak-pihak lain atau bangsa-bangsa di dunia. Dalam istilah Islam, mereka memiliki budaya silaturahmi yang tinggi. Ini adalah cerminan dari surah An-Nisa: 1 yang artinya, “… Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Kelima, mereka punya budaya taat asas, konsisten pada pendirian dan berpegang teguh pada apa yang diyakini. Ini cerminan surah al-Ahqaf ayat 13 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ”Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

Nilai-nilai ajaran Al-Qur’an tersebut hanyalah sepersekian dari keseluruhan ajaran Al-Qur’an yang membuktikan kehebatannya. Sejarah umat manusia mencatat dengan tinta emas, bagaimana kiprah para generasi terdahulu yang berhasil membangun peradaban dan masyarakat yang berakhlak, adil, aman dan sejahtera, yang semuanya itu merupakan buah dari ajaran Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Sekali lagi, tidak ada cara termudah untuk meneladani kehidupan Rasulullah, selain mengamalkan nilai-nilai ajaran Al-Qur’an yang juga diamalkan oleh para ulama-ulama terdahulu kita. Rugilah kita kiranya jika semakin hari semakin jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved