Kolom
Mengurangi Ketergantungan Guru pada Buku Pelajaran
Awal semester ini adalah momen penting bagi guru untuk menanamkan semangat baru pada siswa, terutama setelah mereka menikmati libur panjang
Oleh: Muhammad Yusuf
Pengajar Bahasa Indonesia SMAN 1 Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - Memulai aktivitas pembelajaran di awal semester ini adalah momen penting bagi guru untuk menanamkan semangat baru pada siswa, terutama setelah mereka menikmati libur panjang.
Guru perlu menunjukkan antusiasme dan energi yang positif agar siswa termotivasi untuk kembali beradaptasi dengan ritme belajar.
Sikap penuh semangat dari guru tidak hanya menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, tetapi juga menginspirasi siswa untuk menjalani semester ini dengan optimisme.
Semangat baru dalam diri guru dapat diaktualisasikan dengan menyusun atau mempersiapkan materi pelajaran yang tepat dan sesuai. Di sekolah-sekolah, buku pelajaran sering dianggap sebagai sumber utama pembelajaran.
Buku tersebut dirancang sesuai dengan kurikulum nasional dan menjadi panduan baku dalam proses pengajaran. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada buku pelajaran dapat menghambat inovasi dan fleksibilitas guru dalam menyampaikan materi yang relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan zaman.
Penggunaan buku pelajaran ini berkaitan dengan regulasi yang mengatur penggunaannya. Buku pelajaran di Indonesia wajib mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan harus berlandaskan kurikulum nasional untuk menjamin standar mutu.
Selain itu, Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan mengatur bahwa buku pelajaran yang digunakan harus memenuhi kriteria penilaian dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Namun, regulasi ini tidak dimaksudkan untuk membatasi kreativitas guru. Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong guru untuk menggunakan berbagai sumber belajar dan metode pembelajaran yang inovatif, selama tetap relevan dengan tujuan pembelajaran.
Penyebab Ketergantungan Guru
Fakta di lapangan memperlihatkan, beberapa guru di sekolah hanya bergantung kepada buku pelajaran, baik buku yang disediakan oleh pemerintah maupun pihak penerbit tertentu. Salah satu penyebab utama ketergantungan ini adalah tekanan kurikulum yang padat.
Lebih khusus di sekolah menengah atas, guru dihadapkan pada tuntutan untuk menyelesaikan materi dalam waktu yang terbatas, terutama karena siswa harus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir sekolah maupun ujian masuk perguruan tinggi.
Akibatnya, buku pelajaran sering menjadi satu-satunya rujukan, karena dianggap efisien dalam merangkum keseluruhan materi yang diperlukan.
Selain itu, keterbatasan pelatihan bagi guru dalam merancang metode pengajaran yang kreatif juga memperkuat ketergantungan tersebut. Banyak guru merasa lebih nyaman mengikuti isi buku daripada berinovasi.
Ketergantungan pada buku pelajaran juga berdampak pada cara siswa belajar. Pengajaran yang terlalu berpusat pada buku sering kali bersifat monoton, membuat siswa hanya menghapal informasi tanpa benar-benar memahami konsep.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Muhammad-Yusuf-Pengajar-Bahasa-Indonesia-SMAN-1-Banjarmasin1.jpg)