Sukses Story
Penuh Integritas Jaga Netralitas
Prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan dampak dari konsistensi kita dalam memberikan kebermanfaatan bagi orang lain
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan dampak dari konsistensi kita dalam memberikan kebermanfaatan bagi orang lain dan keberanian untuk terus berinovasi di tengah keterbatasan.
Dengan menjaga kerendahan hati untuk selalu belajar dari siapa pun dan tetap santun dalam berinteraksi, maka pria ini yakin, kepercayaan dan pencapaian akan datang sebagai bentuk tanggung jawab untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi daerah dan bangsa.
Lantas apa dan kiat Yusuf Riadi Lazuardi dalam bekerja sehingga meraih prestasi sebagai Duta Korpri Kalsel? Berikut petikan wawancaranya.
Bisa diceritakan secara singkat tentang latar belakang dan perjalanan pendidikan hingga memilih bidang perpustakaan?
Perjalanan saya dimulai dari keyakinan, literasi adalah pondasi utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Sejak masa sekolah, saya selalu melihat perpustakaan bukan sekadar gudang buku, melainkan sebagai jantung dari peradaban dan pusat informasi yang dinamis.
Secara akademis, saya menempuh jalur pendidikan yang memfokuskan diri pada pengelolaan informasi.
Ketertarikan saya pada bidang ini tumbuh ketika saya menyadari, di era banjir informasi seperti sekarang, masyarakat sangat membutuhkan sosok yang mampu mengurasi, mengelola, dan mendiseminasikan ilmu pengetahuan secara akurat.
Itulah yang memantapkan langkah saya untuk mengambil spesialisasi di bidang Ilmu Perpustakaan.
Apa yang pertama kali mendorong tertarik menjadi pustakawan?
Memilih jalur sebagai Pustakawan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar merupakan wujud pengabdian saya.
Saya melihat posisi ASN Pustakawan bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan sebuah panggilan untuk menjadi jembatan antara sumber ilmu dengan masyarakat luas, terutama dalam mendukung kecerdasan bangsa di tingkat daerah.
Bagaimana pengalaman awal saat mulai bekerja di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banjar?
Saya merasa sangat beruntung karena diterima di lingkungan kerja yang sangat suportif.
Para senior dan rekan sejawat membimbing saya untuk memahami, seorang pustakawan harus mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu berkomunikasi dengan santun namun tetap progresif dalam bekerja.
Apa tantangan terbesar yang dihadapi di awal karier sebagai pustakawan?
Tantangan terbesar yang saya hadapi di awal karier dan saya rasa ini juga dirasakan banyak rekan sejawat adalah stigma atau pandangan stereotip mengenai profesi pustakawan.
Kala itu, masih banyak masyarakat, bahkan mungkin sebagian rekan di lingkungan birokrasi, yang memandang pustakawan hanya sebagai 'penjaga buku' yang duduk di belakang meja dalam suasana yang sunyi dan statis.
Mengubah persepsi tersebut menjadi sosok yang dinamis, informatif dan melek teknologi adalah tantangan intelektual sekaligus sosial yang cukup besar.
Menurut Anda, apa peran penting pustakawan dalam mendukung literasi dan pelayanan publik saat ini?
Menurut pandangan saya, di era ledakan informasi atau information overload seperti saat ini, peran pustakawan telah bertransformasi dari sekadar pengelola koleksi menjadi navigator intelektual dan fasilitator pembelajaran sepanjang hayat.
Inovasi atau kontribusi apa yang paling dibanggakan selama menjadi Pustakawan Pelaksana?
Ada satu kontribusi yang sangat saya syukuri dan membanggakan secara profesional, yaitu peran saya dalam pengembangan dan sosialisasi ekosistem literasi di Kabupaten Banjar, khususnya melalui Komunitas Korpri Membaca.
Bagaimana menjaga semangat dan konsistensi dalam menjalankan tugas sehari-hari?
Menjaga semangat dan konsistensi bagi saya adalah tentang menghayati setiap tugas sebagai bentuk ibadah dan pengabdian yang tulus kepada masyarakat serta negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Yusuf-Riadi-Lazuardi-ASN-Pemkab-Banjar.jpg)