Sukses Story
Penuh Integritas Jaga Netralitas
Prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan dampak dari konsistensi kita dalam memberikan kebermanfaatan bagi orang lain
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Selain itu, secara profesional, saya sangat terinspirasi oleh pimpinan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar, khususnya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kencana Wati. Beliau bukan hanya memberikan bimbingan, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi seorang pelayan publik yang memiliki etika, kesantunan, dan ketangguhan dalam menghadapi dinamika birokrasi.
Kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan untuk saya berkembang, hingga akhirnya dipercaya menjadi Duta Korpri, merupakan motivasi besar yang membentuk karakter profesional.
Kegagalan atau pengalaman sulit apa yang justru memberi pelajaran paling berharga?
Pengalaman sulit yang paling membekas bagi saya adalah saat di awal karir, saya pernah mencoba menginisiasi sebuah program literasi baru yang saya anggap sangat ideal, namun ternyata kurang mendapatkan respons dan partisipasi dari masyarakat.
Saat itu, saya merasa gagal karena ekspektasi saya tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Dari sana saya memahami bahwa dalam birokrasi dan pelayanan publik, sebuah hambatan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan 'alarm' untuk kita berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan melangkah lagi dengan cara yang lebih bijak.
Pengalaman inilah yang justru mendewasakan cara saya bekerja hingga saya bisa berada di posisi sekarang ini.
Bagaimana menyeimbangkan antara pekerjaan, keluarga, dan pengembangan diri?
Menyeimbangkan ketiga pilar tersebut pekerjaan, keluarga, dan pengembangan diri adalah sebuah seni pengelolaan prioritas yang memerlukan disiplin serta kesadaran penuh.
Bagi saya, kuncinya terletak pada kualitas, bukan sekadar kuantitas. Di ranah pekerjaan, saya berusaha bekerja secara tuntas dan efektif pada jam kantor agar saat pulang ke rumah, beban pekerjaan tidak ikut terbawa, sehingga waktu untuk keluarga dapat saya dedikasikan sepenuhnya dengan kehadiran hati dan pikiran yang utuh.
Sementara, untuk pengembangan diri, saya memanfaatkan waktu-waktu luang yang sering terabaikan, seperti membaca buku atau literatur saat dalam perjalanan atau di sela istirahat, serta terus membuka diri terhadap pelatihan dan teknologi baru yang menunjang profesi saya.
Saya meyakini, ketiga aspek ini saling menguatkan: keluarga yang harmonis menjadi sumber energi bagi saya untuk bekerja secara profesional, dan pengembangan diri yang berkelanjutan membuat saya lebih efisien dalam bekerja, sehingga pada akhirnya memberikan saya lebih banyak ruang untuk kembali kepada keluarga.
Apa harapan Anda terhadap pengembangan perpustakaan dan kearsipan di Kabupaten Banjar?
Harapan besar saya adalah melihat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banjar bertransformasi menjadi pusat peradaban digital dan inklusi sosial yang inklusif. Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat meminjam buku, melainkan ruang publik yang dinamis bagi masyarakat untuk berinovasi dan meningkatkan taraf hidupnya melalui literasi.
Saya memimpikan ekosistem yang setiap pelosok desa di Kabupaten Banjar memiliki akses informasi yang setara melalui integrasi teknologi yang modern, didukung tata kelola kearsipan yang akuntabel dan berbasis digital demi mewujudkan memori kolektif daerah yang terjaga dengan baik.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh anggota Korpri, saya optimistis, literasi akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan masyarakat Kabupaten Banjar yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya saing global di masa depan.
Program atau gagasan apa yang ingin didorong sebagai Duta Korpri ke depan?
Gagasan utama yang ingin saya dorong adalah Korpri Membaca. Saya ingin menginisiasi sebuah gerakan, literasi tidak lagi dipandang sebagai tugas pustakawan semata, melainkan menjadi nafas bagi setiap ASN dalam bekerja. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Bekerjalah Dengan Hati
PESAN Yusuf Riadi Lazuardi untuk generasi muda yang ingin berkarier sebagai pustakawan atau ASN, adalah jangan pernah memandang profesi pustakawan atau ASN sebagai sekadar zona nyaman atau pekerjaan administratif statis, melainkan sebagai ladang pengabdian yang dinamis untuk menjadi agen perubahan bagi bangsa.
"Di era digital ini, jadilah sosok yang adaptif, teruslah mengasah kompetensi teknologi informasi tanpa kehilangan sentuhan humanis, serta pegang teguh integritas dan etika karena itulah pondasi utama kepercayaan publik," katanya.
Yusuf percaya, dengan dedikasi yang tulus dan semangat pembelajar sepanjang hayat, kontribusi kecil bisa memberikan melalui pengelolaan ilmu pengetahuan dan pelayanan yang santun dapat menjadi kunci bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Yusuf-Riadi-Lazuardi-ASN-Pemkab-Banjar.jpg)