Tribun Smart

Tak Hanya Mendidik Tapi Berbagi Skill

Izzatul Maula yang berkuliah di Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Antasari Banjarmasin angkatan 2024.

Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasin Post/Salmah
Izzatul Maula, mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Antasari Banjarmasin angkatan 2024. 

"Dengan beberapa job yang diberikan ke saya di bidang itu, saya berani menerima dan mencoba membuat lebih bagus dari sebelumnya," katanya.

Selama berkuliah, Izzatul terus berupaya mengembangkan diri, satu di antaranya adalah berani dan percaya diri saat berbicara serta selalu mencoba.

Ia juga mengembangkan diri melalui organisasi yang memberinya pemahaman tentang kerja sama dan kebersamaan. 

Izzatul pun menyadari, kita tidak bisa memimpin hanya dengan satu mulut, makanya perlu anggota yang mampu menyukseskan arahan.

Meski melakoni beberapa aktivitas, Izzatul bisa memanajemen waktu. Tak heran secara akademis ia masih bisa berprestasi yaitu karya ilmiahnya tidak disangka terpilih sebagai terbaik.

"Terbaik, karena saya menyusunnya dengan seksama. Menyusun secara hati-hati dan sering saya membaca ulang untuk memastikn bahwa karya ilmiah saya itu benar benar bagus dan nyambung," kata Izzatul.

Komitmennya adalah melakukan yang terbaik dan berani mencoba tanpa melihat orang lain, tanpa memikirkan bahwa kita sedang bersaing. Saya fokus pada ketepatan dan kepuasan diri.

"Seringkali saya berpikir bahwa saya pantas! Dan benar semuanya terjadi setelah saya menilai diri saya terlebih dahulu sebelum dinilai orang. Tapi dengan syarat kita boleh menilai diri kita tapi tidak boleh membandingkannya dengan orang lain yang menyebabkan kesombongan," kata  Izzatul. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)


Mencari Kesenangan di Atas Kesabaran
    IZZATUL yang menjadi peserta International Event By ESA Antasari, Anggota Publication, Design & Creative 2025 ESA Community Service 2025, mendapat pengalaman bagus dan berguna.
"Tapi, ada satu yang saya tonjolkan yaitu ESA Community Service, karena disana kami mengabdi pada masyarakat," kata Izzatul.
Mereka belajar untuk kebersamaan, belajar melihat bagaimana kehidupan orang di sana, tentunya diajarkan untuk bertahan hidup dengan berbagai akses yang terbatas.
"Kami diajarkan untuk mencari kesenangan di atas kesabaran, seperti tidak ada sinyal, kami mengusahakan untuk tetap bersama mengubah kebiasaan memegang ponsel menjadi berkumpul dan bercerita," katanya.
Selain itu, akses air yang lumayan sulit, mengajarkan sabar saat mengantre, melihat antusias anak-anak desa yang ingin belajar dan masih banyak lagi. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved