Tribun Smart

Rezvi Berusaha Disiplin dan Realistis

Rezvi aktif di berbagai organisasi, dari PIK-MA, Forum Genre, hingga Masyarakat Relawan Indonesia

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Rezvi Amalia Rahmah, Wakil Duta GenRe Kalimantan Selatan (Kalsel) 2025. 

Seringkali kita gampang sekali menilai orang lain hebat, pintar, atau berbakat. Tapi ketika menilai diri sendiri, kita malah ragu. Padahal justru orang lain sering percaya dengan potensi kita, lantas kenapa kita sendiri tidak percaya? Apa orang lain lebih mengenal diri kita daripada kita sendiri?

Ketika kita sudah benar-benar kenal diri, yakin dengan potensi yang ada, maka rasa percaya diri akan tumbuh. Tinggal dibarengi dengan persiapan, latihan, dan pemahaman audiens. Baginya, percaya diri itu bukan tentang tampil sempurna, tapi tentang nyaman dengan diri sendiri dan yakin bahwa apa yang kita sampaikan punya manfaat.

Meski banyak pengalaman, namun diakui Rezvi sampai sekarang ia masih sering gugup kalau mau mulai public speaking. Menurutnya, gugup itu wajar, dan gagal bukan berarti kalah. Rumusnya sederhana: takut gagal sama dengan takut berhasil. Justru kegagalan itu adalah pembelajaran, jadi jangan sampai kita merasa tidak berharga hanya karena pernah gagal.

"Saya pribadi sering mengalami kegagalan, tapi justru itulah yang membentuk saya menjadi Rezvi yang sekarang. Untuk mengatasi gugup, biasanya saya pakai teknik relaksasi sederhana: tarik napas, hembuskan, senyum, lalu mulai. Kuncinya adalah tenang, karena semakin kita tenang, penyampaian akan terasa lebih natural dan mengalir," tandasnya.

Secara prestasi Rezvi juga peraih Best Creative Content IMC YAE #10 Bangkok, Thailand 2025. Menurutnya, ini cukup unexpected, karena awalnya ia memang suka sekali mendokumentasikan teman-teman delegasi saat mengikuti kunjungan kegiatan atau program. 

"Itu murni kesenangan pribadi saja, saya foto, saya edit, lalu langsung posting. Ternyata dari kebiasaan itu, tanpa saya sadari, orang-orang mulai mengenal saya sebagai Rezvi si Content Creator atau semacam PDD kegiatan. Jadi bukan karena saya sengaja mengejar nominasi, tapi lebih karena hobi saya mendokumentasikan momen. Alhamdulillah, dari hal yang saya lakukan dengan senang hati itu, akhirnya saya mendapat penghargaan Best Creative Content. Buat saya, ini justru makin membuktikan bahwa sesuatu yang kita kerjakan dengan tulus dan bahagia bisa membawa hasil yang luar biasa," ungkapnya.

Baginya, menjadi salah satu delegasi Indonesian Millennial of Change adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, karena keberdampakannya berskala internasional. Ia memang sudah menargetkan di tahun 2025 untuk bisa mengabdi di luar negeri. Kalau sebelumnya saya sudah banyak terjun di dalam negeri, kali ini ia ingin mencoba pengalaman baru agar lebih seimbang.

"Artinya untuk perjalanan saya ke depan, saya bisa belajar memahami berbagai karakter dari daerah dan negara yang berbeda. Hal ini sangat penting, karena sebagai calon dokter nanti saya akan berhadapan dengan pasien dari latar belakang yang beragam. Jadi kesempatan ini saya anggap sebagai proses belajar sejak sekarang, mumpung masih muda dan ada peluang untuk itu," bebernya.

Menurutnya, prestasi tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk piala atau trofi. Prestasi bisa hadir dalam banyak bentuk, termasuk kebermanfaatan yang kita berikan untuk orang lain. Kadang, sekadar hadir di hidup seseorang pun bisa jadi alasan mereka merasa bahagia karena ada kita.

"Bagi saya, prestasi sejati adalah ketika tindakan kita membawa dampak positif, sekecil apa pun itu. Jadi selama ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, itulah prestasi yang sebenarnya, meskipun tidak selalu terlihat atau dipajang dalam bentuk penghargaan," pungkasnya. (Salmah saurin)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved