Kolom

Melepas Jerat Psikopat

Kasus pembunuhan disertai mutilasi seorang wanita muda berinisial TAS (25) yang dibunuh oleh kekasihnya AM (24) di Mojokerto bikin heboh

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
Lilik Suryani, S.Psi Asisten Ombudsman RI Perwakilan Kalsel 

Oleh: Lilik Suryani, S.Psi
Asisten ORI Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - PUBLIK tengah dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang wanita muda berinisial TAS (25) yang dibunuh oleh kekasihnya AM (24) di Mojokerto, Jawa Timur. Peristiwa ini ramai menjadi perbincangan publik lantaran pelaku tega menghabisi nyawa korban dengan keji bahkan memutilasi jasadnya menjadi potongan-potongan kecil. Suatu perbuatan yang tentunya sangat sulit dilakukan oleh manusia normal pada umumnya.

Peristiwa serupa pernah tejadi pada awal tahun 2025 di Ngawi, Jawa Timur dengan korban berinisial UH. Kasus ini terkenal dengan sebutan kasus mayat dalam koper merah. Pembunuhnya tak lain adalah kekasih korban.

Kedua kasus pembunuhan tersebut memiliki kesamaan yakni menghabisi nyawa korban disertai dengan mutilasi. Istilah mutilasi merujuk pada tindakan pembunuhan disertai kekerasan dengan memotong tubuh korban menjadi beberapa bagian.

Dalam kasus pembunuhan disertai mutilasi dapat disebabkan beberapa alasan yakni sebagai upaya pelaku menghilangkan jejak atau perwujudan dari perasaan benci, frustasi serta dorongan psikologis yang terakumulasi. Tidak heran jika pelaku mutilasi kerap dikaitkan sebagai pribadi dengan gangguan psikologis tertentu atau biasa disebut psikopat.

Mengenal Psikopat

Merujuk Diagnostik and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5), psikopat termasuk dalam gangguan kepribadian antisosial, antisocial personality disorder (ASDP). Seorang psikopat dapat melakukan aktivitas sehari-hari layaknya orang normal pada umumnya, seperti menempuh pendidikan dan bekerja dengan baik.

Namun demikian tanda yang paling khas seorang psikopat adalah kurangnya empati terhadap mahluk hidup. Tidak hanya terhadap manusia namun juga hewan. Tidak heran jika seorang psikopat seringkali melakukan kekerasan yang tidak terkontrol tanpa rasa bersalah maupun penyesalan.

Selain itu, penderita psikopati seringkali berperilaku manipulatif diwujudkan dengan perilaku suka berbohong, suka mengeksploitasi orang lain dan kecenderungan untuk mengabaikan norma yang berlaku. Ciri lain seorang psikopat adalah tingginya derajat kekejaman yang mereka miliki.

Tidak heran jika banyak kasus pembunuhan yang dilakukan seorang psikopat disertai dengan perilaku keji seperti memutilasi maupun membakar korban. Hal ini bukan hanya sebagai upaya penghilangan jejak semata namun juga sebagai bentuk pelampiasan agresi atau serangan terhadap korban yang dianggapnya sebagai objek bukan manusia.  

Bagaimana Kepribadian Psikopat Bisa Terbentuk?

Berdasarkan banyak studi yang telah dilakukan, belum diketahui secara pasti pembentuk seorang psikopat. Namun diyakini penyebabnya dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Pertama faktor genetik, faktor ini cenderung diturunkan dari keluarga, dimana anak yang memiliki riwayat keluarga penderita psikopati cenderung memiliki resiko lebih besar.

Seorang peneliti bernama Richard Wiebe dari Fitcburg State Collage, Amerika Serikat menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki garis keturunan psikopat terlahir dengan startle reflex yang tidak berfungsi. Startle reflex merupakan saraf yang digunakan oleh manusia dalam merespons hal-hal yang menakutkan.

Pada psikopat mereka tidak memiliki ketakutan ketakutan yang dimiliki manusia normal lainnya, karena syaraf otaknya tidak mendeteksi rasa ketakutan tersebut. Bagian lain dari otak manusia yang berkaitan dengan psikopati adalah amigdala. Amigdala terlibat dalam responsivitas sosial, empati dan rasa takut.

Pada psikopat area amigdala cenderung lebih kecil atau kurang aktif dibandingkan orang normal lainya. Hal ini mengapa seringkali kita temui seorang psikopat responsif sosialnya cenderung kurang, terlihat sebagai pribadi pendiam namun relatif impulsif.

Kedua, faktor lingkungan seperti pola asuh dan paparan sosioteknologi, Dr Harry Croft dari San Antonio Psychiatric Research Center mengatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh dengan kekerasan atau punishment secara terus menerus memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi seorang psikopat ketika dewasa.

Selain itu paparan lingkungan dan adaptasi konten kekerasan secara virtual dapat membentuk perilaku anak menjadi pribadi agresif yang mengarah pada simptom psikopati.

Melepaskan Jerat Psikopat

Orang dengan gangguan psikopati nyata adanya. Bisa siapa saja, bahkan orang terdekat baik pasangan, tetangga, teman dan lainnya. Paparan kasus diatas pun menunjukkan bahwa antara pelaku dan korban memiliki hubungan yang dekat. Lantas apa yang harus kita lakukan jika orang terdekat menunjukkan gejala-gejala psikopati?

Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengunjungi tenaga profesional guna mendiagnosis kecenderungan perilaku psikopat. Beberapa  prosedur diagnosis psikopat meliputi anamnesis, tes psikologi hingga pemeriksaan penunjang.

Tentunya hal ini tidak dapat dilakukan oleh orang awam melainkan harus mendatangi tenaga profesional seperti psikolog maupun psikiater guna menegakkan diagnosis.

Beberapa studi menyatakan bahwa psikopati dapat ditangani dengan psikoterapi, obat-obatan maupun kombinasi keduanya. Pengobatan psikopat dengan metode psikoterapi dapat membantu pasien dalam memahami gejala dan mempelajari teknik pengelolaan gejala, salah satu teknik psikoterapi yang sering digunakan adalah CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang dapat membantu psikopat mengubah pola pikir dan perilakunya.

Selanjutnya adalah konsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter seperti antidepresan, antipsikotik dan antikonvulsan yang dapat mengatasi gejala psikotik yang muncul. Kebanyakan kasus penderita psikotik sulit untuk diobati dikarenakan mereka merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak membutuhkan perawatan apapun, jika bantuan profesional tidak dapat dilakukan selanjutnya langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah terapkan batasan secara konsisten dengan meminimalkan komunikasi dan hubungan.

Maraknya kasus pembunuhan disertai dengan kekerasan harusnya menjadi atensi bersama. Paparan pemberitaan yang sadis ditakutkan akan menjadi copycat crime (kejahatan hasil tiruan), sehingga perlu untuk dilakukan penegakan hukum yang tegas dan penanganan gangguan psikopati bagi terpidana pembunuhan keji, agar perilaku pembunuhan tidak terjadi secara berulang (multiple killer). (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved