Tajuk

Evaluasi MBG

GELOMBANG keracunan makan gratis (MBG) di Indonesia belum juga mereda. Selasa (14/10), Sebanyak 132 siswa SMP Negeri 1 Cisarua

Editor: Edi Nugroho
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)
MENANGIS-Sambil menangis, siswa korban keracunan MGB dievakuasi ke RSUD Ratu Zaleha Martapura, Kalimantan Selatan, Kamis (9/10/2025) malam. 

GELOMBANG keracunan makan gratis (MBG) di Indonesia belum juga mereda. Selasa (14/10), Sebanyak 132 siswa SMP Negeri 1 Cisarua Bandung Barat juga mengalami keracunan. Sebagian korban dinetralisir pakai air kelapa.

Sebelumya, 1.333 pelajar di Bandung Barat keracunan makan bergizi gratis (MBG) pada September 2025 hingga 45 dapur ditutup dan diberi batas waktu ketat. Tak hanya di provinsi tetangga, ratusan pelajar di Kabupaten Banjar, Kalsel juga jadi korban keracunan MBG, pada Kamis (9/10) lalu.

Hasil pemeriksaan sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menunjukkan adanya kandungan nitrat pada dua jenis makanan yang dikonsumsi para siswa, yaitu nasi dan sayur.

Zat tersebut diduga kuat menjadi pemicu gejala keracunan. Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan MGB per 30 September 2025. Paling banyak terjadi di Wilayah II atau Pulau Jawa, yakni sebanyak 4.147 orang. Meski persentasi korban keracunan masih kecil dibandingkan penerima MBG sebanyak 3,3 juta pelajar, namun kasus keracunan ini tak bisa dianggap remeh.

Baca juga: Giliran Personel Polres Tanahlaut Dirazia di Pintu Gerbang Kantor Kepolisian, Dicegat Propam

Baca juga: Naragigs 2025 Siap Digelar di Banjarbaru, Festival Musik dan Hiburan Tiga Hari Nonstop

Perlu diketahui, tak hanya Indonesia yang sudah menjalankan program MBG dan sejenisnya, tapi juga sejumlah negara lain seperti Finlandia, India, Brasil, Swedia, Estonia, Malaysia, Jepang, dan beberapa wilayah di Inggris Raya seperti Skotlandia dan Wales. Lalu kenapa di negara tetangga jarang terdengar keracunan sejenis MBG.

Di banyak negara maju misalnya Skandinavia, Jerman, dan Jepang, makanan yang disajikan di fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, atau dapur umum harus mematuhi standar kebersihan dan nilai gizi yang ketat. Ada badan pengawas makanan yang benar-benar aktif mengawasi. Bahkan, pihak yang menyediakan makanan baik koki, staf dapur, maupun manajer institusi biasanya memiliki pelatihan profesional. Mereka tahu pentingnya higienis, keseimbangan gizi, dan pengolahan yang aman.

Selanjutnya, lembaga publik yang menyajikan makanan gratis biasanya diaudit secara berkala. Jika ada kasus seperti keracunan, mereka harus bertanggung jawab secara hukum–dan bisa menjadi skandal nasional.  Dalam banyak kasus, makanan gratis di luar negeri bukan proyek dadakan atau “asal ada”. Ini bagian dari sistem kesejahteraan jangka panjang, jadi kualitasnya dijaga karena menyangkut reputasi dan kepercayaan publik.

Tujuan mulia dari program Makan Bergizi Gratis adalah untuk meningkatkan gizi masyarakat dan menciptakan generasi emas dengan mengatasi masalah malnutrisi dan stunting harus didukung. Agar kasus keracunan tak terulang, sejumlah mata rantai MBG harus dibenahi, seperti kualitas dan keamanan makanan, pengawasan, pelatihan bagi pengolah makanan, distribusi dan penyimpanan pemberian edukasi pada siswa hingga harus ada evaluasi dan feedback. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved