Opini Publik

Menakar Kemitraan Dokter-Pasien

kedepan perlu dirumuskan suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter.

Editor: Hari Widodo
Dokumentasi Banjarmasinpost.co.id
Dr.dr.Pribakti B, SpOG(K) Dokter Purnabakti RSUD Ulin Banjarmasin. 

Oleh: Dr.dr.Pribakti B, SpOG(K), Dokter Purnabakti RSUD Ulin Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- DALAM filsafat kedokteran, yang namanya dokter diharapkan memiliki kriteria berpraktik kedokteran bermutu dan beretika (manusiawi) yang dikenal dengan Good Clinical Governance. Namun kita tidak boleh melupakan bahwa dokter juga manusia biasa yang kadang membuat kesalahan, sehingga sebaiknya perumusan yang dibuat juga memperhitungkan aspek minimal yang harus dimiliki oleh seorang dokter .

Sesungguhnya kejujuran profesi dengan menunjukkan kegagalan merupakan salah satu kekuatan dan keluhuran profesi kedokteran yang berfalsafah bahwa, ”Menjadi dokter adalah sekadar mengamalkan ilmu kedokteran yang diperoleh, tapi Tuhanlah yang menentukan”.

 Oleh karena itu di tengah maraknya rasa ketidakpuasan pasien pada pelayanan dokter saat ini dimana dokter banyak dituntut di pengadilan belakangan ini , sudah tentu mempengaruhi hubungan dokter dan pasien.

Timbul pertanyaan: Bagaimana hubungan yang ideal antara dokter dan pasien?

Tidak mudah menjawabnya. Ini karena banyak dokter menganggap dirinya serba bisa, sementara pasien minim sekali pengetahuan mengenai penyakitnya merasa sudah pintar karena AI (Artificial Intelligence).

Akhirnya, pasien tidak mau lagi ”pasrah” ditangan dokter. Karena, sebagai pasien, ia memiliki hak untuk menentukan dan memilih kesehatannya sendiri.

Harus diakui, dalam kenyataannya ada dokter yang bijak dan ada dokter yang tidak bijak. Dokter yang tidak bijak biasanya akan mementingkan diri sendiri, memberi resep yang mahal, menyuruh pasien untuk melakukan pemeriksaan yang tidak perlu, dan yang tergawat melakukan malpraktek karena kurang ahli. Sedangkan dokter yang bijak  harus memiliki empati, moral, etika, logika yang baik, ilmu yang luas, serta keterampilan mutahir.

Menurut almarhum Prof. dr. Suyunus dari Surabaya dalam orasi ilmiahnya mengatakan semua orang pintar dapat menjadi dokter, tapi tidak semua orang pintar adalah orang baik, hanya orang pintar yang baik yang dapat menjadi dokter yang baik.

Mungkin anda tidak setuju dengan ketidak kalimat tersebut atau memiliki pendapat sendiri. Tapi kalimat itu mengandung makna yang penting pada pendidikan seorang dokter.

Seperti pada kalimat kedua, disebutkan, ”tidak semua orang pintar adalah orang baik”.

Dalam hal ini terlihat ada kebenaran pada kalimat tersebut, kenyataan di negara ini memang banyak orang pintar tetapi berhati jahat. 

Orang-orang ini adalah para koruptor, para pemimpin yang ingkar janji, para eksekutif yang gemar memperkaya diri sendiri dan lain sebagainya.

Lebih jauh dari itu, yang namanya pelayanan penyembuhan penyakit seyogyanya berlangsung dalam suasana harmonis, kekeluargaan dan membahagiakan. Dan ini bisa berlangsung apabila dokter bekerja dengan profesionalisme tinggi hingga mampu memuaskan pasien. Sebab salah satu aspek kepuasan pasien adalah pasien memperoleh haknya dan diberi kesempatan melaksanakan kewajibannya. Dan itu hanya dapat dilakukan oleh dokter bijak.

Tentu saja, dalam hal ini saya tidak punya kapasitas memilah-milih, siapa yang termasuk dokter bijak dan tidak bijak. Tapi tentunya kita (dokter) semua harus berupaya meletakkan profesi kedokteran pada fungsi luhurnya ditengah pergeseran nilai dalam pelayanan kesehatan saat ini.

Bukan hal yang harus ditutup-tutupi dimana ada dokter yang berorientasi pada uang, bukan dokter yang tulus membantu menyembuhkan si sakit. Alasannya macam-macam. Pendidikan Kedokteran sekarang mahal dan lama.

Disorientasi dalam praktik seperti ini mengakibatkan tidak sedikit dokter senior menjadi sangat diminati pasien, sehingga mereka harus berpraktik sampai terkantuk-kantuk hingga dini hari.

Padahal dengan kelebihan pasien, bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter lain. Karena bukan tidak mungkin kondisi ini malahan menyebabkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan mengecewakan pasien.

Ada pula, sebagian dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meskipun tidak pada tempatnya. Misalnya untuk mendiagnosa penyakit batuk pilek ringan saja, sang dokter harus melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap.

Keluhan pusing ditanggapi dengan perlunya pemeriksaan CT Scan. Disinilah pasien harus pintar memilih dokter.

Celakanya, situasi yang kacau seperti ini direspon pula oleh pengacara, dengan dalih melindungi hak pasien mereka . Asal tahu saja, tidak semua pengacara mampu memilah mana yang kesalahan dokter dengan mana yang kegagalan atau resiko medis.

Beberapa pengacara yang tidak memiliki etika dan sering membujuk pasien untuk mengajukan tuntutan kepada dokter, bahkan ada pula yang janji tanpa bayaran bila kliennya kalah dalam pengadilan.

Alhasil, banyak pasien yang mengajukan tuntutan hukum kepada dokter, sementara dipihak dokter tidak mau kalah, mereka bersikap defensif. Jadi tidak usah heran bila kini semakin banyak pasien yang lari berobat keluar negeri karena tak lagi mempercayai kompetensi dokter Indonesia.

Hubungan dokter-pasien seperti inilah akan membuat jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah-olah ada dua belah pihak yang menandatangani kontrak perjanjian dimana pasien harus sembuh.

Dengan demikian terasa unsur bisnis yang kental. Akibat dari pola hubungan ini, membuat hubungan pasien dan dokter terganggu.  Masyarakat akan mudah merasa tidak puas.

Untuk itu kedepan perlu dirumuskan suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter. Hubungan kemitraan yang dimaksudkan disini adalah upaya bersama antara dokter dan pasien dalam penyembuhan penyakit.

Sesungguhnya inilah hubungan ideal dokter dan pasien. Sebab dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien pasti membutuhkan dokter.

Dilain pihak, jangan sampai anda sebagai pasien malah disalahgunakan oleh dokter yang tujuan utamanya adalah mencari uang tanpa memperhatikan kondisi pasien.

Bagaimanapun budaya saling menghargailah mesti dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara pasien dan dokter. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved