Opini Publik

Perang Iran-AS-Israel, Pelajaran Teknologi Pertahanan

Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal dan lebih dari seribu drone ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS

|
Editor: Ratino Taufik
Istimewa
Dr. Ir. H. Sa’dianoor, S.T., M.Si., IPM. Alumni Program Doktoral Universitas Pertahanan RIKonsentrasi Teknologi Pertahanan 

Oleh: Dr. Ir. H. Sa’dianoor, S.T., M.Si., IPM.                                                                                           

Alumni Program Doktoral Universitas Pertahanan RIKonsentrasi Teknologi Pertahanan

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah Ramadan yang mestinya menjadi musim damai dan refleksi, dunia justru dihadapkan pada eskalasi serangan militer yang kian telanjang, termasuk operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah dan kawasan lain.

Serangan udara presisi, rudal jelajah, drone bersenjata, sampai operasi siber kini nyaris selalu ditopang jaringan teknologi ruang angkasa, terutama satelit, yang menjadikan langit dan antariksa bagian tak terpisahkan dari medan perang modern.

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan menghancurkan kompleks Beit-e Rahbari di Teheran menjadi titik balik konflik di Timur Tengah. Operasi udara bersandi Operation Epic Fury itu menyasar fasilitas militer, situs nuklir, dan pusat komando Iran, memanfaatkan rudal presisi, drone, siber dan satelit untuk melumpuhkan kapasitas tempur sekaligus simbol kekuasaan.

Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal dan lebih dari seribu drone ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS, serta secara efektif menutup Selat Hormuz bagi pelayaran global. Dalam beberapa hari, 20 persen perdagangan minyak dunia terganggu, harga energi melonjak, dan risiko resesi global kembali menguat.

Konflik ini menunjukkan wajah perang abad ke-21 yang telah bergeser dari pertempuran konvensional menjadi hybrid warfare: kombinasi kekuatan militer, operasi siber, perang informasi, tekanan ekonomi dan pemanfaatan penuh teknologi ruang angkasa.

Seperti dikatakan Clausewitz, perang tetaplah kelanjutan politik dengan cara lain, tetapi “cara lain” itu kini dijalankan melalui jaringan C4ISR, drone otonom, dan algoritma kecerdasan buatan. Bagi Indonesia, perang Iran–AS–Israel bukan hanya berita luar negeri; ia adalah cermin yang menunjukkan sejauh mana kesiapan dan arah pengembangan teknologi pertahanan kita sendiri.

Dari sisi teknologi, keunggulan AS–Israel tampak pada integrasi satelit, pesawat intai, rudal dan siber dalam satu kill chain yang sangat cepat. Citra satelit komersial dan militer digunakan untuk mengidentifikasi target, menilai kerusakan, dan menyesuaikan gelombang serangan berikutnya. Di atas orbit, konstelasi satelit navigasi, komunikasi dan pengintaian menjadikan medan perang seolah transparan.

Buku-buku tentang geointelijen dan transformasi militer yang kita kenal menggambarkan kondisi ini sebagai “dominasi spektrum penuh”: musuh tidak hanya dikalahkan di darat, laut, udara, tetapi juga di ruang elektromagnetik dan antariksa.

Namun, Iran tidak meladeni perang ini secara simetris. Sejak 2020, Garda Revolusi meluncurkan satelit militer Noor-1, Noor-2 dan Noor-3 dengan roket Qased, memberi kemampuan pencitraan dasar untuk pengintaian kawasan. Walau kalah jauh dari satelit AS–Israel, kemampuan ini cukup untuk memantau aktivitas pangkalan di Teluk dan mengarahkan rudal serta drone ke sasaran bernilai tinggi.

Data yang dirilis sejumlah kementerian pertahanan negara Teluk menunjukkan bahwa sejak 28 Februari, Iran menembakkan lebih dari 500 rudal dan sekitar 1.400 drone ke wilayah mereka; tiga perempat serangan berbentuk drone, menghantam sistem pertahanan lawan dengan serangan bertubi-tubi berbiaya murah.

Inilah inti strategi asymmetric warfare Iran: melawan keunggulan teknologi lawan di orbit dan udara dengan kombinasi rudal, drone swarm, operasi siber dan penutupan choke point maritim seperti Selat Hormuz.

Penutupan selat ini  yang untuk pertama kalinya diumumkan secara terbuka dengan ancaman menembak kapal yang mencoba melintas segera mengguncang pasar minyak, karena hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur sempit selebar sekitar 33 kilometer itu. Dalam logika Clausewitz, Iran menggunakan geografi dan jalur energi sebagai “pusat gravitasi” untuk mengimbangi kelemahan di udara dan antariksa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved