Tajuk
Belajar dari Kartel Meksiko
Pemimpin dan aparat penegak hukum di Indonesia juga harus belajar pada Presiden El Salvador Nayib Bukele dalam memberantas narkoba
BANJARMASINPOST.CO.ID- DI tengah kekhusyukan masyarakat Kalimantan Selatan menjalankan ibadah Ramadan 1447 Hijriah, sebuah berita tidak mengenakkan datang, Selasa (24/2). Kepolisian Daerah (Polda) Kalsel mengungkap penggagalan peredaran narkotika jenis sabu seberat hampir 30 kilogram.
Tanpa bermaksud mengabaikan kerja keras kepolisian, keberadaan narkotika sebanyak itu sungguh menyedihkan. Ini sekali lagi menunjukkan Kalsel sebagai pasar besar narkoba.
Selama ini penangkapan pengedar sabu dengan berat satu dua kilogram sudah bukan hal aneh lagi. Sedangkan untuk puluhan kilogram masih jarang terjadi.
Namun demikian hal ini jangan dianggap remeh. Bukan tidak mungkin ke depan penyitaan sabu puluhan kilogram tidak aneh lagi. Terlebih ada bandar internasional dari Kalsel, yang belum bisa ditangkap kepolisian.
Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan dalam jumpa pers, kemarin, menyatakan tersangka kasus sabu 30 kilogram merupakan jaringan Fredy Pratama alias Miming.
Kepolisian harus lebih keras memberantas narkoba karena ini bukan persoalan masyarakat saja. Sudah banyak polisi menjadi korbannya.
Paling ramai dibicarakan masyarakat adalah kasus di Polres Bima Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Narkoba menjerat Kasatnarkoba AKP Malaungi. Tidak ingin disangka berjualan sendiri, Malaungi pun menyebut nama Kapolres AKBP Didik Putra Kuncoro, yang belakangan dipecat dari anggota Polri.
Dari kasus ini muncul pula nama Polwan Aipda Dianita Agustina serta istri Didik, Miranti Afriana. Artinya, narkoba tidak hanya merusak anggota Polri, tetapi telah meracuni anggota keluarga.
Tidak hanya sampai di perwira menengah, narkoba juga merambah ke perwira tinggi.
Masih lekat dalam ingatan masyarakat kasus Kapolda Sumatera Barat Inspektur Jenderal Teddy Minahasa Putra pada 2023.
Dia turut andil dalam penyelundupan narkoba dari luar negeri. Hasilnya, kini Teddy harus menjalani hukuman seumur hidup.
Kepolisian dan tentunya juga masyarakat harus bekerja keras dan sama memberantas narkoba. Jangan biarkan jaringan pengedar narkoba semakin menggurita dan mencengkeram kehidupan.
Kita tentu tidak ingin seperti di Meksiko, yang membara belakangan ini. Gara-gara bosnya, Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes, ditembak mati polisi, anggota kartel narkoba mengamuk dan membakar kota.
Menteri Pertahanan (Menhan) Meksiko Ricardo Trevilla Trejo bahkan pada Senin (23/2/2026) harus menangis saat mengumumkan 25 personel Garda Nasional gugur dalam operasi penumpasan kartel Jalisco New Generation (CJNG).
Hal ini bisa terjadi karena anggota kartel narkoba semakin kuat hingga berani melawan aparat.
Pemimpin dan aparat penegak hukum di Indonesia juga harus belajar pada Presiden El Salvador Nayib Bukele dalam memberantas narkoba beserta para gembongnya.
Puluhan ribu anggota kartel dikirimnya ke penjara sejak awal Maret 2022. Intinya harus tegas dan tidak mengambil keuntungan dari peredaran narkoba. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Penampakan-barang-bukti-puluhan-paket-narkoba-jenis-sabu-beserta-ekstasi.jpg)