Kolom

Kita dan Penindasan Zionis

Israel dan Amerika akhirnya menyerang Iran di bulan Ramadan 1447 ini. Iran pun melakukan serangan balasan ke Israel

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

MUJIBURRAHMAN

Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- SEPERTI sudah diduga dan dikhawatirkan banyak pengamat internasional, Israel dan Amerika akhirnya menyerang Iran di bulan Ramadan 1447 ini. Iran pun melakukan serangan balasan ke Israel serta ke beberapa pangkalan militer Amerika di Timur Tengah.

Apakah perang ini akan habis-habisan, seperti pilihan antara hidup dan mati, sehingga masing-masing akan menggunakan senjata paling berbahaya dan menghancurkan? Entahlah!

Tak syak lagi, di balik perang ini, ada kepentingan kaum Zionis Yahudi yang berkuasa di Israel dan bersekutu dengan Amerika, untuk menguasai Palestina dan konon kelak juga merambah ke sebagian besar Timur Tengah.

Tak peduli sudah berapa banyak Resolusi PBB, dan betapa keras protes dan kutukan pada Israel dan Amerika, penghancuran Gaza dan genosida warganya terus dilakukan nyaris tanpa henti.

Dunia seperti tak berdaya. Hukum internasional sudah tak berguna. Yang berlaku adalah hukum rimba. Yang kuat adalah yang benar. Yang lemah selalu salah dan kalah.

Begitulah yang tampak bagi saya yang bukan ahli kajian Israel dan Palestina. Sebagai orang awam yang kala remaja hanya membaca berita media di Indonesia, saya mula-mula berempati pada perjuangan rakyat Palestina karena mereka adalah saudara-saudari Muslim yang ditindas Yahudi.

Baru setelah saya membaca lebih banyak informasi dan bertemu dengan sejumlah orang, saya mulai melihat sisi-sisi yang lebih kompleks dari sekadar isu agama. Yang menderita di
Palestina bukan hanya Muslim tetapi juga Kristen, dan orang Yahudi tidak semuanya mendukung kaum Zionis.

Ketika saya kuliah S-2 di Kanada (1998-2000), saya pernah belajar metodologi penelitian dengan seorang dosen keturunan Yahudi. Dia penganut Yahudi Ortodoks. Sebagai perempuan, dia tidak memakai celana panjang, tetapi baju panjang.

Di hari Sabtu, dia benar-benar taat, tidak mau naik kendaraan bermotor. Kemana-mana jalan kaki. Pada Sabtu malam, dia melaksanakan ‘Sabat Dinner’, makan malam yang didahului doa-doa berbahasa Ibrani.

Dia sangat baik dan dekat dengan para mahasiswa, termasuk yang Muslim. Tak pernah satu katapun saya dengar dia membenci Islam.

Saya kemudian melanjutkan S-3 di Belanda (2001-2005). Suasana dunia saat itu tengah panas dengan isu terorisme dan Islam sebagai tertuduh, terutama setelah serangan terhadap menara kembar WTC di New York, 11 September 2001.

Kirakira pada 2002, pemikir Mesir, Hassan Hanafi, memberi kuliah umum di Universitas Leiden tentang “Oksidentalisme”. Menurutnya, orang Timur harus mempelajari Barat sebagaimana Barat mempelajari Timur yang melahirkan “Orientalisme”. Orang Palestina Kristen dan profesor di Amerika, Edward Said telah membongkar watak colonial Orientalisme itu.

Sebagai mahasiswa, saya mula-mula mengenal Hanafi berkat terjemahan karyanya tentang “Kiri
Islam” yang diterbitkan anak muda NU di Yogyakarta pada awal 1990-an. Seperti banyak aktivis di zaman itu, saya tertarik pada diksi-diksi perlawanan kiri Islam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved