Opini Publik

Mengenang KH Husin Naparin

KH Husin Naparin adalah sosok ulama yang sungguh unik bagi generasinya dengan bobot yang tinggi dan tipe yang khas

Tayang:
Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- RABU, 6 Mei 2026, sekitar 06.30 pagi. Seperti biasa, saya dan istri menyantap sarapan. Sambil menikmati makan, kami berbincang tentang rupa-rupa soal. Entah mengapa, perbincangan sampai kepada KH Husin Naparin, yang sudah cukup lama sakit. Tak ada firasat apa-apa. Hanya tiba-tiba ingat beliau. Saya kemudian bergegas pergi ke kampus.

Jam 08.40 pagi, Ketua Prodi S-3 Studi Islam, Dr Muhammad Iqbal,MA mengetuk pintu. Dia mengingatkan saya bahwa kawan-kawan sudah siap berangkat ke Politeknik Tanah Laut, Pelaihari, untuk melaksanakan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru dan pengabdian kepada masyarakat.

Saya segera keluar kantor, lalu bergabung di mobil. Mobil meluncur. Di tengah jalan, salah seorang teman membaca berita via media sosial: KH Husin Naparin wafat.

Alangkah terkejutnya saya! Meskipun saya tahu beliau sudah cukup lama sakit, namun rasanya belum siap menerima kabar kepergiannya. Saya berharap jenazahnya akan disalatkan menjelang Ashar. Ternyata tidak. Karena itu, saya hanya bisa mendoakan dari jauh. Saya hanya bisa mengenangnya melalui tulisan ini.

***

Setiap pribadi itu unik, tiada duanya. Namun, keunikan itupun bertingkat-tingkat bobotnya dan tipenya. KH Husin Naparin adalah sosok ulama yang sungguh unik bagi generasinya dengan bobot yang tinggi dan tipe yang khas.

 Hal ini antara lain berkat potensi dirinya, pendidikan yang dijalaninya, pengalaman hidup yang ditempuhnya serta kemampuannya dalam menyikapi berbagai peluang dan tantangan dengan kreatif.

Husin Naparin lahir di Kalahiyang, Kabupaten Balangan, 10 November 1947. Dia adalah generasi yang lahir pascakemerdekaan, tumbuh dalam suasana penuh gejolak di masa Soekarno, dan menjalani pendidikan tinggi di masa Soeharto, kemudian berkarier di zaman kejayaan Orde Baru hingga masa Reformasi. Jalan yang dilewatinya tidak dekat, tetapi jauh, bahkan menuju ke beberapa penjuru, namun tetap dalam semangat seorang santri yang cinta ilmu dan berjuang melayani umat.

Tidak banyak orang yang seberuntung Husin Naparin, lebih-lebih bagi generasinya di zaman itu. Meski berasal dari kampung yang ratusan kilometer jaraknya dari ibukota provinsi, dia berhasil melanglang buana.

Setelah belajar di Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, pada 1972 dia melanjutkan ke al-Azhar Mesir.  Sambil kuliah di Mesir, dia bekerja musiman di Arab Saudi dan Belanda.

Kemudian dia bekerja di KBRI Jeddah pada 1978-1983. Selama di Saudi, dia belajar ilmu-ilmu keislaman dengan para ulama tradisional asal Nusantara. 

Pada 1984, dia merantau lagi ke Pakistan, kuliah S-2 di dua lembaga dan meraih dua ‘MA’, yaitu di Punjab University, Lahore, selesai pada 1986, dan Islamic University, Islamabad, selesai pada 1987.

Demikianlah, Husin Naparin adalah sosok kosmopolitan. Dia bukan sekadar orang Banjar dari Balangan, tetapi penduduk dunia yang mengalami kehidupan Timur Tengah, Asia Selatan, bahkan Eropa. Sudah pasti, pergaulannya amatlah luas.

Bekerja di kedutaan tentu membuatnya terhubung dengan banyak orang penting. Kuliah di banyak kampus tentu juga membuatnya punya banyak teman dari berbagai latar belakang. Buku-buku yang dibacanya pastilah beragam dan banyak pula.

Dengan modal yang sedemikian hebat, Husin Naparin ternyata memilih untuk pulang ke daerah, tidak ingin berkarier di Jakarta atau di luar negeri. Saya menduga, ada saja tawaran dan peluang yang menggiurkan secara duniawi, tetapi dia enggan mengambilnya. Dia memilih berkiprah di kampung sendiri sebagai tanggung jawab kepada masyarakatnya.

Ternyata pilihannya tepat. Kariernya cemerlang. Dia mula-mula dikenal di masyarakat sebagai penceramah agama yang berbakat: berisi dan pandai melontarkan humor.

Pada 1989, bersama dengan beberapa tokoh, dia mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah al-Jami di Banjarmasin. Setelah itu dia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin (2001-2004), lalu Masjid Jami, Sungai Jingah (2007-2017), Ketua Umum MUI Kalsel (2016-2021) dan (2021-2025), dan sejak 2012 menjadi Ketua Umum Yayasan Pesantren Rakha, almamaternya.

Kalau melihat sederet jabatan di atas, mungkin ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Husin Naparin tetaplah beda. Dia bukan saja pandai berpidato, tetapi juga pandai menulis. Kemampuannya dalam menulis sudah terasah sejak di pesantren.

Dia suka membaca, termasuk karya-karya sastra yang menggugah jiwa. Karena itu, ketika dia menulis essai, pengaruh sastra itu terasa. Essainya lancar dan renyah. Pada tahun 2000 silam, atas usulnya, rubrik ‘gosip’ di BPost diganti dengan ’fikrah’ yang diisinya rutin tiap Jumat. Tak sedikit pembaca yang menjadi penggemar rubrik itu.

Berkat pengalaman dan wawasannya yang luas, Husin Naparin juga adalah sosok yang dapat beradaptasi dengan perubahan masyarakat. Ketika antrean haji makin panjang dan lama, dia adalah salah satu ulama yang paling awal aktif dalam layanan bimbingan umrah melalui biro perjalanan.  Berkat ilmu dan pengalaman yang dimilikinya, dia mampu membimbing jemaah umrah dengan sabar dan tekun, serta menulis buku-buku doa dan petunjuk ibadah sebagai pegangan.

Husin Naparin juga menjadi pendukung ekonomi syariah. Dia sempat menjadi Dewan Pengawas Syariah Bank Kalsel Syariah. Ketika Arie Ginanjar ramai melaksanakan pelatihan SQ, Husin Naparin juga mencoba membuat pelatihan yang mirip.

Dia juga sempat ingin maju dalam Pilkada Kabupaten Balangan pada 2010, meskipun akhirnya gagal menjadi calon. Saat saya menjabat Rektor UIN Antasari (2017-2025), ada yang mengusulkan agar dia diberi gelar doktor kehormatan. Namun, pemberian gelar itu tak bisa dilaksanakan karena waktu itu akreditasi UIN belum unggul.

Tentu saja, yang paling penting dari rekam jejak hidupnya adalah murid-muridnya, para jemaah yang mengikuti pengajiannya, dan mereka yang datang meminta nasihatnya dan doanya.

Bagi saya pribadi, KH Husin Naparin adalah sahabat dekat dan saudara angkat ayah saya. Dialah yang membacakan talqin saat ayah dikuburkan pada 6 Januari 2003 silam. Kini, Husin Naparin menyusulnya ke alam baka. Semoga mereka berdua berkumpul di sana dalam bahagia di surga. Amin! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved