Kolom

Euforia Syawalan dan Tradisi Mudik Lebaran

Syawal sebagai bulan peningkatan dimaknai dalam dua hal. Pertama, bagaimana mempertahankan kebiasaan baik selama Ramadan, kedua semangat silaturahmi

Editor: Irfani Rahman
Dok BPost Cetak
Muh. Fajaruddin Atsnan, Dosen UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan
Dosen UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- IDULFITRI 1445 H telah berlalu. Tetapi syahdunya bulan Syawal sebagai bulan silaturahmi tetap menggelora. Syawal sebagai bulan peningkatan dimaknai dalam dua hal. Pertama, bagaimana mempertahankan kebiasaan baik selama bulan suci Ramadan. Kedua, semangat bersilaturahmi melalui mudik.

Lanjutkan kebiasaan baik

Setelah tertempa di bulan Ramadan dengan kebiasaan baik beribadah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, maka seseorang yang benar-benar meraih hari kemenangan adalah mereka yang mampu melanjutkan kebiasaan baik itu. Ramadan adalah bulan yang tepat untuk mentarbiyah (mendidik), sedangkan Syawal adalah bulan peningkatan. Kebiasaan baik selama Ramadan, patut dilanjutkan kalau perlu ditingkatan mulai bulan Syawal, tepat di hari kemenangan.

Pertama, lanjutkan pribadi religius. Ini karakter yang paling nampak. Religius identik dengan watak seseorang yang alim, beragama, dan suka beribadah. Ramadan adalah kawah candradimuka untuk mentarbiyah dan melatih anak untuk menjadi pribadi yang religius.

Ada peningkatan secara kuantitas ibadah di bulan Ramadan dibandingkan di luar Ramadan. Ada ibadah wajib seperti puasa bagi yang sudah baligh dan mampu. Serta ibadah-ibadah yang sebenarnya ada di luar Ramadan, seperti sholat sunah tarawih, kalau di luar Ramadan sholat tahajud, dan ada ghirah (semangat) untuk memotivasi anak untuk tadarus Al-Qur’an, berinfaq, dan lain-lain. Lantas, mulai di bulan Syawal, semangat beribadah dan membentuk pribadi yang lebih religius tak boleh surut, disinilah tantangannya.

Kedua, lanjutkan pribadi yang jujur. Saat puasa Ramadan, kita tak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga aktivitas yang berpotensi membatalkan puasa. Salah satunya tidak berkata bohong. Coba bayangkan jika kita bisa terus berkata jujur, maka potensi berbuat korup, semakin kecil. Potensi berbuat curang semakin kecil, sehingga negeri ini menjadi negeri yang diliputi keberkahan.

Ketiga, lanjutkan pribadi yang disiplin. Ramadan telah mengajarkan kita untuk membiasakan diri disiplin. Sahur telah ditetapkan waktunya dan buka puasa juga telah ditetapkan waktunya. Tidak bisa kita sesuka hati sendiri untuk makan dan minum di kala berbuka. Kebiasaan disiplin ini jika kita bisa lanjutkan, maka kita akan setara dengan Jepang, Korea, dan negara-negara yang kuat budaya disiplin.

Mereka negara maju yang tak suka dengan keteledoran, keterlambatan, apalagi membuang waktu. Inilah tantangan, bisa tidak kita mengubah mindset bahwa masyarakat kita suka menunda pekerjaan, tidak ontime, jam karet, sulit untuk disiplin? Jika bisa, maka bisa menjadi modal untuk negara ini terus maju, tidak hanya berkembang.

Keempat, lanjutkan pribadi dermawan. Iming-iming lipat ganda dan berkali lipat pahala memotivasi kita untuk berbuat baik, beramal, bersedekah, berbagi rezeki dengan sesama di bulan Ramadan. Lantas, apakah kita bisa melanjutkan kebiasaan berbagi itu di luar bulan yang penuh privilage luar biasa? Menjadi sosok yang dermawan adalah karakter jebolan Ramadan yang diperlukan bangsa ini untuk bangkit. Mengeluarkan zakat baik fitrah maupun mal, tujuannya selain mensucikan harta, juga untuk membentuk pribadi yang suka memberi, tidak pelit, tidak kikir, bakhil dan sejenisnya.

Sampai di ujung Ramadan, kita berbagi dengan sesama dalam berbagai bentuk, ada yang bagi-bagi THR, ada yang bagi parcel, dll. Ramadan telah membentuk pribadi dermawan gemar berbagi kebahagiaan dengan saudara, kerabat, dan orang lain yang layak disantuni.

Animo Mudik

Tahun ini, data hasil survei Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) mencatat, jumlah pergerakan masyarakat saat musim mudik Lebaran 2024 diprediksi mencapai 193,6 juta orang atau mencapai 71,7 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Hampir 200 juta orang mudik tahun ini. Angka ini tentu menunjukkan antusiasme sangat besar dari masyarakat untuk mudik, di tengah berbagai kondisi.

Momen mudik Lebaran bisa menjadi momen healing untuk melepas penat, melepas kangen, melepas beban kerja, untuk sejenak bercengkerama dan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, berbagi cerita, dan mempererat ikatan batin emosional.

Perjalanan pulang ke kampung halaman juga membawa nostalgia dan kenangan indah dari masa kecil yang mungkin telah lama terpendam. Mulai dari kulineran, memecah liur selera asal, hingga tempat-tempat legend yang menyimpan memori indah masa kecil.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved