Kenangan Spesial Barito Putera

LIGA Galatama sebagai wahana bagi klub (unit bisnis) diharapkan akan dapat menggantikan fungsi perserikatan. Klub-klub yang berada di bawah

Editor: Dheny Irwan Saputra
Nama: Alfi Syahrin
Blog: http://wimalfi.blogspot.com

LIGA Galatama sebagai wahana bagi klub (unit bisnis) diharapkan akan dapat menggantikan fungsi perserikatan. Klub-klub yang berada di bawah ‘label’ Liga Galatama diharapkan akan tumbuh dan berkembang tak terbatas, karena pendirian dan pembentukan klub dapat direalisasikan oleh setiap individu maupun kelompok seperti unit-unit bisnis umumnya.

Liga sepak bola Indonesia yang dalam hal ini Liga Galatama, berlangsung secara kontinyu hingga 13 musim (atau 15 tahun) yang berakhir pada 1994. Namun dalam perjalanannya liga (semi) profesional ini tertatih-tatih.

Alasannya, ketua komisi silih berganti (enam ketua), belum meresap sebagai profesi, jumlah penonton semakin menurun, publikasi kurang, sponsor minim dan keanggotaan sangat fluktuatif (Tempo, 1994). Juga karena pemain klub banyak yang masuk pelatnas jangka panjang (dan lama) yang berpotensi mengganggu jadwal pertandingan terkait dengan turnamen yang diikuti oleh
PSSI. Alasan lainnya adanya isu suap yang terkait dengan pengaturan skor pertandingan yang mencederai fairplay. PS Barito Putera berlaga di lima musim Liga Sepak Bola Utama yaitu sejak musim 88/89, 90, 90/92, 92/93, dan musim 93/94.

Setelah melakukan evaluasi sepak bola Indonesia dan keinginan membangun sepak bola yang lebih modern (internasional), pengurus PSSI akhirnya diputuskan kompetisi Perserikatan yang sudah berusia 63 tahun disatukan menjadi kompetisi baru yang disebut Liga Indonesia (Ligina) dan dilaksanakan pada 1994.

Dalam perjalanannya di Ligina, PS Barito Putera sempat menggebrak pada Liga Indonesia I musim 1994. Saat itu Barito Putera berhasil menembus babak 8 besar lalu masuk ke semifinal. Sayangnya PS Barito Putera kalah 0-1 dari Persib Bandung. Peristiwa ini memang sangat mengecewakan supporter dan pecinta Barito Putera, tapi kebanggaan terhadap tim tetap terjaga sampai sekarang. Bahkan kepulangan mereka dari Jakarta pada waktu itu, disambut dengan lautan manusia berbaju merah dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke Banjarmasin.

Selengkapnya tulisan ini, silakan kunjungi blog http://wimalfi.blogspot.com. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved