Politik Sindiran

BLUSUKAN sekarang lagi ngetren di jagad internet, media cetak dan media elektronika (radio dan televisi).

Editor: Dheny Irwan Saputra

BLUSUKAN sekarang lagi ngetren di jagad internet, media cetak dan media elektronika (radio dan televisi). Menjadi sebuah gimmick yang mampu mengundang perhatian semua kalangan masyarakat Indonesia. Kalau lah Anda mengklik kata kunci ‘blusukan’ di google.com, maka akan muncul sebanyak 939.000.

Blusukan menjadi populer sebagai bagian aktivitas sehari-hari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang lebih beken dengan panggilan Jokowi. Di mesin pencari kata google.com juga, kata ‘Jokowi’ muncul sebanyak 14.300.000. Melahirkan kekuatan luar biasa, menjadi ikon politik saat ini. Dari situ bisa terlihat bahwa kata Jokowi sudah menguasai pemberitaan di internet sekitar 14 juta kali lebih. Masih di jagad internet, di youtube.com tercatat sebanyak 297.000 video yang diunggah dengan kata kunci ‘Jokowi’.

Jokowi juga menyapu bersih --setidaknya sampai saat ini-- dan selalu berada di poll teratas setiap hasil survei dan penelitian yang dilakukan oleh berbagai macam lembaga survei, yang menyertakan nama Jokowi dalam penelitian.

Pokoknya dia menjadi beken! Karena beken, maka begitu besar minta rakyat Indonesia untuk mendorong Jokowi tampil sebagai Calon Presiden RI 2014-2019. Persoalannya mengapa dia bisa beken? Kebekenan inilah kemudian mengundang sejumlah komentar dan penilaian pun dilayangkan terhadap hobi blusukan Jokowi. Nama Jokowi pun menjadi populer seantero Tanah Air. Bahkan, dalam sejumlah survei, ia menjadi kandidat calon presiden terkuat saat ini.

Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat Marzuki Alie menilai, Jokowi melambung karena peran media. Selain terbantu oleh publikasi media, Jokowi, kata Marzuki, juga memiliki ruang untuk melakukan “hobi” blusukan-nya.

Jika Jokowi menjadi presiden, Marzuki mengaku tak bisa membayangkan kader PDI Perjuangan itu tetap melakukan aktivitas blusukan-nya.

Bukan cuma Marzuki yang menyindir Jokowi. Sindiran datang pula dari peserta Konvensi Capres PD Endriartono Sutarto. Dia menilai fenomena kemonceran Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai hal yang aneh. Kenapa? “Era sekarang ini memang aneh, orang yang terkenal menjadi salah satu pilihan masyarakat hanya karena sering masuk media. Padahal kan seharusnya yang dilihat itu rekam jejaknya,” jawab Endriartono dalam acara Meet the Press Peserta Konvensi di Jl Pati Unus No 75, Jakarta Selatan, Senin (6/1). Endriartono pun menekankan bahwa dirinya memiliki gagasan yang seharusnya menjadi dasar masyarakat untuk memilihnya.

Pada intinya kedua tokoh PD ini sudah mempunyai clue bahwa popularitas Jokowi karena media. Tetapi keduanya masih belum mempunyai jawaban untuk pertanyaan selanjutnya: Mengapa Jokowi bisa menjadi media darling? Karena Jokowi berhasil melompat keluar dari mindstream politik yang elite itu menjadi sebuah kesederhanaan, tak ada jarak dengan rakyat. Lebih dari itu membawa perubahan terutama menunjukkan sikap jujur dan transparen. Sikap ini tidak banyak dimiliki oleh pemimpin di negeri sarang korupsi seperti sekarang ini.

Mumpung belum terlambat, mulai sekarang Marzuki Alie dan Endriartono menggenjot popularitasnya melalui multimedia, multiplatform, multi channel . Barangkali masih bisa mengejar popularitas untuk bisa menjadi Presiden RI 2014-2019. Tidak perlu harus menyindir. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved