Juara (Bukan) Target Basi
Target Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2014 adalah juara. Kalimat itu cenderung biasa dan mengarah basi.
TARGET Persib Bandung di Liga Super Indonesia (LSI) 2014 adalah juara. Kalimat itu cenderung biasa dan mengarah basi. Apa sebabnya? Karena sudah beberapa musim belakangan, juara adalah bidikan utama Maung Bandung.
Hasilnya? Anda semua mungkin yang lebih paham mengenai capaian Persib, setelah menjadi yang kampiun di Liga Indonesia I musim 1994/95. Posisi terbaik yang bisa diraih adalah bertengger di posisi tiga pada musim 2008/09. Kemudian, di pergelaran LSI 2013 atau musim lalu, Djadjang Nurdjaman mengantarkan tim kebanggaan bobotoh itu di peringkat empat klasemen akhir.
Aplaus tak ada salahnya diberikan kepada Djadjang, karena posisi itu naik empat level dibandingkan musim sebelumnya. Tapi pada kenyataannya, Djadjang tetap dianggap gagal karena patokannya adalah juara. Tidak main-main.
Dengan materi mentereng karena mendatangkan beberapa pemain berkelas, nyatanya Persib tak mampu bersaing dengan Persipura Jayapura. Jangankan dengan tim Mutiara Hitam yang menggenggam gelar tiga kali dan runner-up dua kali dalam lima musim terakhir, Persib juga tak mampu menunjukkan taring di hadapan Arema Indonesia dan Mitra Kukar yang ada di posisi tua dan tiga.
Kini, dengan kompetisi berformat dua wilayah, peluang Persib menggapai gelar dianggap lebih ringan dibandingkan satu wilayah. Memang ada benarnya. Masalahnya, apakah Maung Bandung bisa memaksimalkan peluang sekecil apa pun untuk mendukung perjalanan agar target tercapai?
Lihat saja perjalanan musim lalu. Banyak poin dan kans finis lebih banyak terbuang percuma. Kekalahan melawan Persiram Raja Ampat pada laga kandang terakhir, juga menjadi aib tersendiri. Belum lagi gagal menang melawan Persita Tangerang yang berlangsung di Stadion Siliwangi, walau berstatus tamu yang tentunya dipadati penonton berkaus biru.
Selain memaksimalkan laga tandang menjadi tiga poin, Firman Utina dan kawan-kawan dilarang terpeleset sedikit pun dalam detik-detik krusial. Jika itu tetap terjadi, akibatnya akan sangat fatal.
Dan dengan format dua wilayah, tak ada salahnya jika fokus pertama masuk empat besar Wilayah Barat. Seandainya tak bisa menjadi bagian big four, juara juga tak akan tergapai. Bukan langkah ringan karena Arema, Persija Jakarta, Sriwijaya FC, Semen Padang, dan tim underdog Barito Putera menjadi pesaing utama.
Perjuangan akan dimulai Minggu (2/2) nanti. Lawan pertama yang dihadapi adalah Sriwijaya FC yang menjadi kampiun musim 2011/12. Jika ke depannya ingin punya jalan yang lebar dan mulus, Maung Bandung tak punya opsi kedua selain mengalahkan tim asuhan Subangkit itu di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.
Menjadi juara tentu akan sangat membahagiakan bobotoh yang sudah lama merindukannya. Namun, bobotoh juga punya pekerjaan agar timnya bisa merealisasikan target. Bukan hanya bernyanyi menyemangati pemain yang bertarung di lapangan, tapi juga berlaku sportif dan tak ada caci maki.
Bobotoh harus dewasa. Membawa petasan, kembang api, bom asap, dan flare lalu menyulutnya di dalam stadion saat pertandingan masih berlangsung adalah kesalahan. Jangan menuding petugas yang tak ketat di pintu masuk, tapi salahkan diri Anda sendiri karena yang Anda lakukan berefek buruk ke tim yang katanya Anda cintai.
PT Liga Indonesia selaku operator LSI sudah me-warning akan menindak tegas sikap minus itu termasuk rasisme. Jika bobotoh melakukan, yang rugi adalah Persib. Denda hingga pertandingan tanpa penonton atau usiran bisa saja dijadikan sanksi untuk Persib.
Jika semua elemen sudah punya tujuan sepaket, kata juara tak akan basi lagi. Inilah saatnya juara dan kudu juara, Sib! (*)