Televisi Berbayar

ENAK bagi yang hidup di kota besar. Menonton siaran televisi nasional tak perlu mengeluarkan uang banyak.

Editor: Dheny Irwan Saputra

ENAK bagi yang hidup di kota besar. Menonton siaran televisi nasional tak perlu mengeluarkan uang banyak. Tinggal beli televisi, dan antena tv yang harganya tidak mahal dan “mantep” bisa menonton siaran apa pun.

Sebaliknya, bagi yang hidup di pelosok harus mengelus dada. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan karena jangkauan siaran televisi nasional dan swasta belum semuanya menjangkau daerah pelosok di Indonesia.

Mereka terpaksa harus beli parabola. Dengan alat ini semua televisi swasta, maupun yang milik pemerintah bisa tertangkap. Namun, ada satu yang tak bisa mereka saksikan yakni tayangan langsung, biasanya tayangan langsung sepak bola. Pihak stasiun televisi mengacak siaran tersebut, sehingga tidak bisa tertangkap oleh parabola.

Sial memang pertandingan bagus yang ditunggu-tunggu seperti Liga Super Indonesia (LSI), yang pemainnya sebagian besar orang Indonesia tak bisa disaksikan bangsa sendiri yang menggunakan parabola.

Apa mau dikata itu sudah merupakan sebuah aturan yang harus dipatuhi pemilik hak siar, dan pemilik parabola pun hanya bisa menggerutu tidak bisa lebih.

“Semakin susah aja nonton bola, Pake antena UHF gak ada sinyal, pake parabola diacak. Kasian rakyat seperti kami yg tinggal di pelosok. Nasib nasib.... Sepakbola negeri sendiri aja gak boleh ditonton gratis,” komentar Rasyid Alfarid dalam ruang komentar sebuah artikel di Goal.com, Selasa (4/2).

Contoh lainnya adalah ketika Piala Konfederasi 2013 di Brasil, 16 Juni 2013, yang disiarkan secara langsung oleh dua televisi nasional, ternyata tidak bisa ditonton seluruh warga Indonesia, khususnya yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebagian besar kami warga NTT masih menggunakan antena parabola sehingga pada saat acara siaran langsung piala konfederasi, acaranya langsung diacak. Bukan hanya piala konfederasi saja, tetapi Piala Asia, Piala Eropa dan Piala Dunia juga siarannya diacak,” kata Herman Nahak warga Lasiana, Kabupaten Kupang, seperti dikutip Tribunnews, Minggu (30/6).

Mengapa harus diacak? Dari beberapa referensi yang kita temukan mengapa tayangan terpaksa harus diacak, karena terbentur dari hak siar sebuah televisi bersangkutan berdomisili di mana. Misalnya stasiun televisi A yang berdomisili di Indonesia mendapatkan hak siar liga sepak bola di Eropa, siarannya hanya boleh disaksikan pemirsa di Indonesia. Jika tidak diacak siaran tersebut bisa disaksikan oleh pemirsa yang Digital Satellite Receiver (DSR) di luar Indonesia.

Permasalahan tersebut seperti sepele. Tapi kalau kita simak semuanya, itu menunjukkan betapa pembangunan di Indonesia belum merata. Jika pembangunan sudah merata rasanya tidak mungkin orang di NTT sana tidak bisa menyaksikan siaran televisi yang bisa disaksikan warga di Jawa secara gratis. Pada dasarnya mereka juga memiliki hak yang sama untuk menyaksikan tayangan langsung sepak bola di layar kaca miliknya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved