Mengawali dan Mengakhiri

BUKAN hanya anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Editor: Dheny Irwan Saputra

***

Masalah pilkada langsung atau tidak langsung sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Sejak RUU ini dibahas rakyat tidak ambil peduli. Tapi akhirnya berubah setelah tertangkap adanya sinyal baru di mana KMP ingin menguasai pemerintahan di daerah-daerah setelah kalah dalam pilpres.

Ini sangat mungkin karena jumlah suaranya lebih banyak daripada koalisi Jokowi-JK. Seandainya ini diputus sebelum pemilu mungkin lain lagi ceritanya.

Sinyal-sinyal itu ditangkap pula oleh sebagian rakyat yang kemudian menolak niat KMP. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan hanya Demokrat yang memiliki kursi terbanyak. Mereka bisa memenangkan kubu mana pun.

Ketika mendengar dukungan pilkada langsung dari Yudhoyono, koalisi PDIP menebar senyum dan memuji ketulusan sang presdien. Saat dalam sidang paripurna, Demokrat menawarkan opsinya, mereka memberi dukungan. Anggota fraksi Demokrat pun sampai terkaget-kaget mendapat dukungan itu.

Ternyata yang dilakukan Demokrat itu diduga tak lebih dari sandiwara. Seolah-olah mendukung pilihan rakyat tapi sejatinya hatinya berada di KMP.

Ini pas sekali dengan sikap Yudhoyono yang selama ini terkesan peragu, tidak tegas dan hanya cari pencitraan. Tidak ingin namanya jatuh di depan rakyat tapi juga tidak ingin mengecewakan koalisi merah putih.

Mustahil Yudhoyono tidak tahu bahwa WO-nya Demokrat berdampak besar pada keputusan sidang.

Sikap Demokrat itu awalnya sangat simpatik. Banyak orang meramal inilah saatnya mencairkan kebekuan yang sudah berjalan hampir 10 tahun antara Yudhoyono dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Ternyata kebekuan itu justru akan makin dalam tertanam mengiringi hari tua mereka. Tanpa tegur tanpa sapa, yang satu mengawali pilkada langsung, yang lain mengakhirinya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved