Tantangan Pendidikan Menuju MEA 2015

Pada tahun 2015 kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau Pasar Ekonomi ASEAN mulai berlaku.

Tayang:
Editor: Dheny Irwan Saputra

Dalam mengantisipasi realitas global, maka pendidikan kita perlu membenahi beberapa hal, di antaranya: Pertama, salah satu ciri globalisasi adalah manusia sudah menjadi satu komunitas yang saling memengaruhi satu dan lainnya. Karena itu, SDM pendidikan wajib menguasai teknologi informasi (information technology). Tak terpungkiri bahwa IT merupakan motor penggerak utama arus globalisasi, sekaligus faktor penting untuk menjaga eksistensi pendidikan di suatu bangsa.

Kedua, anggaran pendidikan kita yang 20 persen itu, masih sangat jauh bila dibanding negara lain. Belum lagi masih dibagi untuk gaji guru, dosen, dan 18 kementerian/lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan.

Di Amerika Serikat anggaran pendidikan sudah mencapai 68 persen, Belanda 30 persen, Israel 37 persen, Thailand 36 persen, dan tetangga terdekat, Malaysia, 26 persen. Jadi, tidaklah heran bila di sana kemajuan dunia pendidikan menyumbang pengetahuan dan teknologi yang signifikan dalam pembangunan bangsa.

Ketiga, institusi pendidikan tinggi (PT), di fakultas pendidikan dituntut menghasilkan para calon guru yang bermutu. Sebab dari berbagai riset, rendahnya kualitas pendidikan bersumber dari persoalan kualitas guru.

Barisan guru Indonesia tidak diisi orang-orang cerdas dan jenius. Orang-orang seperti itu justru memilih profesi lain yang lebih menjanjikan, seperti dokter, pengusaha, birokrat, bahkan entertainer. Profesi guru tak lebih hanya tempat pelarian bagi mereka yang “banting stir” karena sulitnya akses pekerjaan.

Lalu, bagaimana memikat putra-putri terbaik bangsa agar mereka tertarik menjadi guru? Hemat saya, pemerintah harus lebih meningkatkan jaminan kesejahteraan hidup bagi masa depan profesi guru.

Di samping itu, gerakan “Indonesia mengajar” yang digagas mantan Rektor Paramadina, Anies Baswedan (Mendikbud sekarang) layak dijadikan inspirasi untuk menggaet para guru terbaik bangsa. Semua guru terpilih lewat seleksi yang begitu ketat bukan asal-asalan.

Kalau persoalan guru saja belum juga dibenahi pemerintah, rasanya mimpi pendidikan kita untuk bersaing dengan negara-negara lain di MEA (2015), serta berperan aktif dalam pembangunan dan kerja sama global tahun 2020. Jangan-jangan sebatas “mimpi di siang bolong”. (*)

Penulis: Pengamat Pendidikan

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved