Menggali Kubur

BARU saja kita digemparkan oleh penangkapan Wakil Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Bambang Widjojanto

Editor: Dheny Irwan Saputra

***

Jokowi diwanti-wanti KPK agar tidak memilih BG karena ada catatan merah, tapi tak digubris dan surat ke DPR pun dikirim. Masalah menjadi ruwet karena KPK menetapkan BG sebagai tersangka. Toh BG masih mendapat sambutan hangat di DPR, semua mendukung kecuali Partai Demokrat.

Ini mempersulit posisi Jokowi. Sebab ketika diusulkan ke DPR BG masih bersih, pulangnya sudah jadi tersangka. Jalan tengahnya pelantikan BG ditunda. Tapi perang dengan KPK pun makin terbuka. Sulit dibantah PDIP tidak punya benang merah terhadap kericuhan yang terjadi sekarang.

Politisi PDIP Dwi Ria Latifa dalam acara di televisi juga mempertanyakan penetapan BG sebagai tersangka. Kalau itu karena ‘rekening gendut’, nama yang ada padanya 17 orang.

“BG urutan 10, yang urutan 1 sampai 9 siapa, kok tidak didahulukan,” ujarnya.

Nasi sudah menjadi bubur, tinggal menunggu ketegasan presiden. Rakyat menunggu keberpihakan Jokowi pada pemberantasan korupsi.

Jadi, biarkan hukum berjalan, kalau Bambang harus dihukum ya dihukum. Tapi pengusutan KPK terhadap BG juga jangan dihalangi, bahkan jika harus ditahan sekalipun.

KPK adalah salah satu kebanggaan bangsa Indonesia yang masih tersisa, tapi kini nasibnya di tepi jurang. Tidak ada yang membela kecuali rakyat. Pembahasan KUHP dan KUHAP yang pernah dihentikan karena melemahkan KPK, bisa-bisa lolos karena DPR sudah bersatu.

Kalau presiden segera bertindak membela KPK, kepercayaan rakyat bisa pulih. Kalau sekarang? Seseorang menulis di internet, cobalah Jokowi blusukan ke pasar, apa masih ada rakyat yang mau menyapa? PDIP tengah menggali kubur. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved