Tanggapan Atas Tulisan Pribakti B

Dokter dan Tugas Kemanusiaan

Menarik sekali membaca tulisan Pribakti B, dokter RSUD Ulin Banjarmasin. Dalam tulisannya, ia mengambarkan

Tayang:
Editor: BPost Online

Oleh: Irfan Sona
Direktur Lembaga Kajian Sosial, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan
UIN Walisongo Semarang

Menarik sekali membaca tulisan Pribakti B, dokter RSUD Ulin Banjarmasin. Dalam tulisannya, ia mengambarkan betapa susahnya untuk menjadi seorang dokter. Dimulai dari biaya kuliah yang begitu mahal, sampai pada rasio dokter yang ada.

Dalam tulisan tersebut, Pribakti juga menggambarkan efek yang akan muncul di kemudian hari dengan bertambahnya fakultas kedokteran. Sementara, para dosen pengampu hanya 1 : 10 untuk tahap preklinik dan 1 : 5 untuk tahap klinik. Alat peraga dan peralatan laboratorium lain juga tak memadai, demikian pula rumah sakit pendidikan yang dimiliki. Ini membuat KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) belakangan menghentikan pemberian izin pendirian fakultas kedokteran baru, meski banyak pihak menentang. (Banjarmasin Post, 21 Februari 2015).

Terlepas dari semua itu, menjadi seorang dokter merupakan cita-cita kebanyakan orang. Bagi sebagian besar manusia, dokter merupakan suatu bidang yang memiliki nilai lebih tersendiri. Selain itu, menjadi seorang dokter akan bisa memberikan manfaat yang begitu banyak bagi manusia yang lainnya. Orang-orang yang seperti itu terobsesi dengan sebuah dalil yang mengatakan khoiru al-Nas anfauhum li al-Nas (Sebaik-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain). Mengingat manusia harus berguna bagi orang lain, maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menjadi seorang dokter. Sebab, dokter merupakan suatu tugas yang bersifat kemanusiaan.

Memang, untuk menjadi seorang dokter tidaklah mudah. Dibutuhkan persiapan luar-dalam, terutama finansial. Sebab, untuk kuliah di fakultas kedokteran membutuhkan biaya yang sangat besar. Bahkan, jika dibandingkan dengan fakultas-fakultas lain, kedokteran selalu berada dalam rating 3 besar sebagai fakultas termahal. Lalu, apakah dengan biaya kuliah yang mahal tersebut, cita-cita mulia seorang anak manusia harus terkubur begitu saja? Sangat disayangkan sekali apabila cita-cita mulia tersebut harus hilang dan hanya menjadi sebuah mimpi. Oleh sebab itu, seorang yang sudah mempunyai cita-cita mulia untuk menjadi dokter, benar-benar harus memperjuangkan mimpinya tersebut.

Pekerjaan dokter adalah profesi yang mulia, karena bertugas menangani kemanusiaan. Apalagi seorang dokter spesialis, mereka tentu sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Oleh sebab itu, seorang dokter harus benar-benar mempersiapkan diri agar mampu mengemban tugas yang begitu besar dan berat, tidak perduli harus berada pada daerah terpencil. Bagi dokter yang sudah berkeluarga, mereka harus rela berpisah dengan keluarganya guna menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Menolong satu nyawa manusia, sama halnya dengan menyelamatkan 1.000 generasi bangsa.

Dokter adalah makhluk Tuhan yang tercipta untuk menolong sesama. Dokter tidak ubahnya seperti Malaikat yang tidak boleh melakukan kesalahan. Dokter adalah penyembuh, bahkan dokter dianggap sebagai penyebab hidup atau matinya seseorang. Tapi mungkin tidak banyak yang sadar bahwa dokter juga manusia yang bisa lelah. Dokter adalah juga seperti manusia umumnya yang bisa melakukan kesalahan. Dokter hanyalah manusia yang disumpah untuk melakukan yang terbaik, sesuai kemampuannya dan bukan bersumpah untuk menjadi sempurna.

Tugas yang dijalankan seorang dokter adalah tugas yang sangat mulia. Dalam bahasa agama (Islam) tugas mulia tersebut terangkum dalam kalimat amal saleh yang berarti pekerjaaan yang bernilai ibadah dan bermanfaat bagi manusia.

Para dokter telah melakukan salah satu tujuan syari’at agama yaitu menjaga kehidupan setiap manusia (hifz al nafs), sehingga mereka dapat hidup dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Tugas mulia ini benar-benar hanya dapat dijalankan oleh orang-orang yang bersih hatinya dan menjadikan setiap pekerjaan yang dilakukannya sebagai sebuah ibadah pengabdian kepada Allah.

Dalam kamus bahasa Indonesia, dokter adalah lulusan pendidikan kedokteran yang menguasai segala sesuatu yang berkaitan dengan pengobatan penyakit. Mereka memiliki tugas mulia di mana manusia (pasien) menggantungkan kesembuhannya dari berbagai penyakit ke pundak para dokter.

Dalam melakukan pelayanan kesehatan para dokter terikat dengan sumpah yang telah diucapkan ketika menyelesaikan pendidikan kedokterannya, sehingga dokter tidak boleh bertindak semena-mena dalam melakukan pelayanan kesehatan. Pasien adalah orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan dengan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter.

Dalam UU No 8/ 1999 disebutkan bahwa pasien adalah pengguna jasa layanan kesehatan yang dilakukan dokter. Kedudukan ini menempatkan pasien sebagai konsumen dan dokter sebagai penjual jasa.

Bila hubungan seperti ini yang menjadi pedoman, maka yang terjadi adalah hubungan yang bersifat ekonomis, di mana segala sesuatu hanya dinilai dari aspek keuntungan finansial. Hubungan yang terjalin antara dokter dan pasien sebenarnya bukan hanya bernilai uang dan kesembuhan, tetapi yang terpenting adalah kesepahaman dan sikap saling percaya. Kedua-dua sifat tersebut hanya akan muncul bila dalam diri dokter terdapat kesucian hati, dan pada diri pasien terdapat kebesaran jiwa.

Artinya, dokter melayani setiap pasiennya dengan hati, dan pasien menyadari bahwa peran dokter hanyalah sebagai perantara kesembuhan, bukan pemilik kesembuhan. Kesucian hati para dokter ini tercermin dari sumpah dokter yang telah mereka tegaskan ketika dilantik sebagai dokter. Sumpah dokter itu diadopsi dari sumpah Hipokrates.

Bila sumpah tersebut didalami satu persatu dan dijalankan secara konsekuen, maka setiap dokter akan menyadari betapa perannya menjadi tempat “bergantung” setiap manusia yang ingin menjalani kehidupan secara normal dan sehat. Dokter tidak akan bertindak semena-mena dan tidak akan melihat setiap pasien sebagai sumber uang yang menguntungkan. Para dokter akan menghormati pasien sebagai manusia tanpa membeda-bedakan status sosial yang dimilikinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved