Baik dan Jujur

DUNIA ikut berduka dengan meninggalnya mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew (91). Ia telah membuktikan

Editor: Dheny Irwan Saputra

Kita juga memimpikan negara yang bersih bebas dari korupsi, untuk itulah dibentuk KPK. Tapi KPK yang mulai menemukan bentuknya kini justru terpuruk kalah oleh koruptor.

Menteri Hukum dan HAM bahkan akan memperlonggar syarat remisi khusus untuk koruptor. Persepsi tentang korupsi ternyata berbeda di kalangan pemimpin. Ironis, pemberantasan korupsi loyo di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan antikorupsi.

Pemimpin kita juga tidak tegas dalam satu kata dan perbuatan. Misalnya Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sepertinya belum kering ludahnya untuk melarang rapat dinas di hotel untuk mencegah pemborosan. Ternyata kini diizinkan lagi. Padahal rapat di hotel berpotensi menimbulkan korupsi.

Sebelumnya memang banyak keluhan dari hotel-hotel karena larangan itu mengurangi pendapatan. Tampak sekali bahwa pengusaha di Indonesia hanya bisa mengandalkan kucuran APBN, bukan dari keringat.

Presiden Jokowi juga menolak semua permohonan grasi para terhukum mati kasus narkoba. Tiga orang sudah dieksekusi di depan regu tembak, tiga lagi akan menyusul dan sudah dibawa ke Nusakambangan. Tapi setelah ditekan Australia yang warganya akan dieksekusi, ‘mengambang’ lagi.

Kita butuh pemimpin yang berani, mandiri dan tegas seperti Lee Kuan Yew. Semua kita punya, sumber daya alam, manusia, tambang, sinar matahari, angin sampai petir yang bisa menghasilkan energi. Semuanya berlimpah. Yang kurang hanya orang baik dan jujur. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved