Ada Rupa Ada Harga

IMAM Malik dalam Al-Muwatha dan Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari meriwayatkan bahwa Allah berfirman yang

Editor: BPost Online

Oleh: KH Husin Naparin

IMAM Malik dalam Al-Muwatha’ dan Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari meriwayatkan bahwa Allah berfirman yang artinya, “Tiap kebajikan mendapat ganjaran sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, Akulah yang mengganjarnya.”

Dapat dipahami, bahwa seseorang akan mendapat ganjaran puasa bisa berlipat ganda melebihi tujuh ratus kali lipat atau mungkin tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus, sesuai bobot pelaksanaan puasanya, “ada rupa ada harga”. Oleh sebab itu dalam menunaikan puasa, seseorang hendaklah memelihara diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa dan membatalkan puasa itu sendiri.

Habib Hassan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaaf dalam bukunya At-Taqrirat As-Sadidah menerangkan, bahwa untuk mendapatkan ganjaran yang banyak dalam berpuasa, seseorang hendaklah melaksanakan sejumlah anjuran (sunnah) yaitu:

1) Memelihara diri dari makanan haram dan syubhat; juga israf (berlebihan).

2) Menyegerakan berbuka jika waktunya sudah sampai; berbuka dengan kurma masak (ruthab), atau air zamzam atau makanan yang tidak disentuh api atau sesuatu yang manis, serta berdoa dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau doa apa saja yang diinginkan, karena pada saat itu merupakan waktu mustajab.

3) Tidak sekali-kali meninggalkan santap sahur, karena santap sahur membawa berkah. Waktu bersahur dimulai sesudah pertengahan malam, namun disunahkan mengakhirkannya kurang lebih 15 menit sebelum terbit fajar, kendati hanya dengan seteguk air.

4) Jika seseorang mempunyai kelebihan hendaklah ia membukakan orang lain yang berpuasa, karena akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang dibukakannya tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.

5) Mandi janabat sebelum fajar agar berpuasa dari awal sudah dalam keadaan suci; kendati mandi janabat dibolehkan pada waktu berpuasa.

6) Mandi sesudah magrib di setiap malam Ramadan agar dapat melaksanakan qiyam Ramadhan, yaitu salat tarawih dengan segar.

7) Salat tarawih secara rutin di setiap malam bulan Ramadan dari awal sampai akhir, mereka yang merutinkannya didasari iman dan ihtisab (mencari rida Allah swt akan mendapatkan keampunan dosa-dosa terdahulu. (HR Bukhari Muslim).

8) Salat witir dengan beberapa kekhususan, yaitu dilaksanakan berjamaah, imam menyaringkan bacaan ayat dan membaca doa qunut sesudah pertengahan kedua bulan Ramadan.

9) Memperbanyak membaca Alquran dengan tadabbur (perenungan makna), karena Ramadan adalah bulan Alquran; di mana secara khusus Jibril as mengunjungi Nabi Muhammad saw untuk mengulang-ulang bacaan Alquran yang sudah diturunkan.

10) Memperbanyak salat sunnah seperti rawatib qabliyah dan ba’diyah, dhuha, tasbih, taubat, dan lain-lain.

11) Memperbanyak amal kebajikan berupa sedekah, silaturahim, menghadiri majelis ilmu, iktikaf, umrah jika memungkinkan, memelihara hati dan anggota agar selalu bersama Allah swt dan banyak berdoa dengan doa-doa yang ma’sur (datang dari Rasulullah saw).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved