Mengubah Indonesia

SUATU saat saya jalan-jalan ke Pacitan, Jatim, kota asal Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono. Saya cuma ingin membuktikan omongan orang

Editor: BPost Online

Oleh: Pramono BS

SUATU
saat saya jalan-jalan ke Pacitan, Jatim, kota asal Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono. Saya cuma ingin membuktikan omongan orang bahwa Pacitan sekarang sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Saya sudah beberapa kali datang ke kota itu jadi setiap perubahan pasti terasa dalam pandangan atau perasaan.

Misalnya, sekitar sepuluh tahun lalu ketika saya datang, suasana gersang masih terasa. Jalan-jalan rusak, mau cari makan pun susah. Ada warung kecil sekadar untuk mengisi perut, tapi kesan ‘kota’ sangat kurang.

Objek wisata pantai masih mangkrak, wisata lain seperti gua-gua dikelola alakadarnya. Letaknya yang jauh di ujung menyebabkan tidak ada orang yang datang kecuali punya kepentingan.

Sekarang orang terkejut melihat perkembangan daerah di pesisir selatan itu. Jalan-jalan mulus, jalan dengan aspal beton mengular di sepanjang pantai, ke barat dan timur menembus daerah lain.

Tempat wisata pantai diserbu masyarakat setiap hari, bukan hanya dari Pacitan tapi daerah lain. Daerah bergunung batu itu juga meraup keuntungan dari wisata gua di beberapa tempat seperti Gua Gong dan Gua Tabuhan.

Jalan-jalan di kota juga makin rapi dan bersih, hotel-hotel bertebaran. Pada hari libur seperti Idulfitri, tidak ada hotel kosong. Bahkan penduduk ikut mendapat rezeki dengan menyediakan rumahnya sebagai tempat penginapan yang mereka sebut homestay. Nuansa hijau juga terasa karena banyak tanah tandus yang kini dipenuhi tanaman sengon.

Sebagai daerah yang memiliki gunung batu, Pacitan juga berada dalam garda paling depan dalam penjualan batu akik. Sebelum akik booming seperti sekarang, akik Pacitan sudah terkenal.

Tetapi penjaja batu akik di Pacitan zaman dulu tidak banyak. Sekarang menjamur di sepanjang jalan dan ini menjadi bagian penting bagi pendapatan masyarakat. Pacitan juga terkenal sebagai pengekspor batu marmer.

Pacitan sekarang sudah banyak berubah. Banyak kendaraan bernomor polisi daerah lain berseliweran, utamanya berpelat nomor B (Jakarta) di saat liburan seperti lebaran. Maklum orang Pacitan terkenal perantau yang gigih, banyak yang sukses di daerah lain seperti Jakarta, Batam, dan Tanjungpinang.

Orang Pacitan itu mirip orang Padang, tapi orang Padang punya ciri khas Warung Padang, sehingga gampang dikenali. Orang Pacitan kerja serabutan, tukang kayu, tukang batu, jualan bakso sampai jadi presiden. Tentu yang paling sukses adalah Yudhoyono karena dari Pacitan dia bisa menjadi orang nomor satu.

Kalau artis ‘panas’ Julia Peres (Jupe) yang dulu digadang jadi bupati Pacitan terpilih, akan tambah satu lagi ikon kota itu. Kebetulan di sana ada kuliner terkenal, soto Goyang Dombret.

***

Tidak bisa dipungkiri, Pacitan kini banyak berubah. Terlalu naif kalau tidak mengakui peran Yudhoyono. Sebelum mengubah Indonesia, dia pastilah terobsesi untuk mengubah daerahnya sendiriyang sebagian besar rakyatnya dulu makan gaplek. Sayang dia belum sempat mengubah Indonesia seperti Pacitan.

Sukses itu membuat Bupati Pacitan Indartato yang berpasangan dengan Yudi Sumbogo tidak ada lawan tanding untuk Pilkada serentak. Tampaknya tidak ada lawan yang berani.

Untunglah pada hari-hari terakhir, PDIP dengan penuh percaya diri mengajukan calon sehingga Pacitan selamat dari Pilkada melawan bumbung kosong.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved