Mengubah Indonesia
SUATU saat saya jalan-jalan ke Pacitan, Jatim, kota asal Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono. Saya cuma ingin membuktikan omongan orang
Mungkin Pacitan bisa menjadi model. Meski tidak punya minyak, batubara, sawit dan hutan tapi daerahnya bisa maju. Daerah yang punya jutaan hektare sawit, hutan atau batubara belum tentu rakyatnya makmur.
Di Kalsel, banyak warga yang daerahnya penghasil batu bara hanya kebagian debu, atau di daerah yang kaya kelapa sawit rakyatnya cuma jadi buruh. Kalau ada perusahaan inti plasma, kebun rakyat rata-rata sudah dijual, rakyatnya tetap saja melarat.
‘Musim’ Pilkada artinya musim ‘tidak aman’ untuk tanah-tanah negara. Banyak calon kepala daerah maju dengan didanai pengusaha, dan tentu tidak ‘gratis’. Setelah menang, mereka harus membayar utang, paling gampang dengan konsesi hutan dan tambang. Jutaan hektare hutan yang terbakar baru-baru ini sebagian juga milik pengusaha yang entah didapat dari mana.
Sekarang masyarakat harus waspada, ratusan kepala daerah baru akan dipilih. Orang-orang yang merasa berjasa bisa menjadi sumber kerawanan atas keteguhan iman sang kepala daerah terpilih. Jangan sampai daerah yang kaya malah jadi melarat.
Yang terbelakang justru harus jadi maju seperti Pacitan. Sesuai obsesi Presiden Joko Widodo, mengubah Indonesia dari pinggiran, bukan dari Jakarta. (*)