Mimpi Dosen ULM
Sang kolega pun berhitung, andai yang menanam banyak orang, sebanyak itu pula ulin akan tumbuh. Kelak, ulin bukan lagi kayu langka.
SEORANG dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM) begitu gembira menanam sebatang pohon jenis kayu ulin. Diberi seorang kolega, dia tanam sepenuh hati di pekarangan rumahnya. Berharap, tumbuh besar kelak.
Sang kolega pun berhitung, andai yang menanam banyak orang, sebanyak itu pula ulin akan tumbuh. Kelak, ulin bukan lagi kayu langka.
Umum diketahui, hanya ulin yang tangguh untuk konstruksi rumah di tanah Kalimantan. Di daerah berair, rawa-rawa atau di atas bantaran sungai, ulin memang cocok. Di tanah kering, juga cocok. Apalagi untuk bangunan besar dan panjang, macam balai adat, ulin lah yang pas.
Kualitas kayunya memang luar biasa. Membuatnya banyak diburu. Dulu, mudah didapat. Ditebang sebanyak-banyaknya. Dijual besar-besaran. Kini, jumlahnya kian menyusut. Betul-betul sulit dicari. Mungkin, makin jauh ke daerah pedalaman Kalimantan.
Namun, bukti lain, ulin tetap ada. Bahkan marak. Bisa dilihat dengan mudah, di antaranya di wilayah Kabupaten Tanahlaut. Kayu yang diangkut, sepertinya tidak ada yang panjang hingga delapan meter seperti dulu. Panjang empat meter pun, jarang. Terbanyak di bawah ukuran itu.
Untuk ulin yang ukuran pendek, diangkut hanya dengan menggunakan sepeda motor. Ditumpuk-tumpuk di kiri dan kanan motor, lalu dibawa ke tempat penjual kayu untuk bangunan.
Kalau kata pejabat di Pemkab Tanahlaut, ulin itu sisa dari bekas area perusahaan kayu. Tersisa bagian bawah pohon atau biasa disebut tunggul. Rata-rata ukurannya, semeter hingga dua meter. Selanjutnya, masyarakat diberi izin untuk memanfaatkan sisa itu untuk ditebang. Lalu, dijadikan balok-balok dan diangkut dengan sepeda motor. Sebutan di masyarakat, ojek ulin atau jek-lin.
Namun, untuk keperluan bagian utama pembangunan rumah, semisal balok delapan meter atau empat meter saja sebagai tiang, dirasa kian sulit didapat. Kalau pun ada, harganya sangat mahal.
Pemerintah daerah juga kesulitan mendapatkan ulin guna keperluan pembangunan. Contohnya hendak memperbaiki jembatan ulin yang berusia lama dan kini rusak, mereka juga kesulitan mencari ulin dengan besaran atau diameter yang sama. Solusinya, melupakan ulin. Penggantinya, konstruksi beton atau baja.
Ke depan, tak mustahil ulin bakal habis. Sebabnya, tetap diburu, ditebang dan dijual. Sedangkan program penghijuan, reboisasi dan sejenisnya, jarang terdengar menanam ulin. Sementara, sering terdengar adalah orang menanam trembesi dan lainnya, ditanam di tepi jalan raya, kampus, perkantoran.
Mungkin mimpi banyak masyarakat, ada semacam gerakan menanam sejuta pohon ulin. Kelak, tumbuh dan kemudian menjadi hutan ulin. Sukses di satu tempat, disusul di tempat lain. Akhirnya, hutan ulin muncul lagi di banyak tempat. Apakah terwujud? Semoga, memang banyak yang menanam ulin. (*)