Membebaskan Diri dari Impitan Utang
Doa ini dibaca pagi dan petang, Abu Umamah pun mendapatkan jalan membebaskan dirinya dari impitan utang. (HR Abu Said).
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel
Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk masjid Madinah, beliau menemukan seorang sahabat yang dikenal dengan panggilan Abu Umamah; dia duduk termenung dengan wajah murung, Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Abu Umamah mengapa engkau duduk di masjid padahal sekarang bukan waktunya salat?.”
Abu Umamah menjawab, “Kesedihan yang menimpaku karena utang.” Rasul langsung mengajarkan doa untuk dibaca pagi dan petang, Allahumma inni a’udzubika minal-hammi wal-hazani, wa a’udzubika minal-‘ajzi wal-kasali, wa a’udzubika minal-jubni wal-bukhli, wa a’udzubika min ghlabatid-daini wa qahrir-rijal.
Artinya “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari sedih dan duka, aku berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kekerasan orang lain.”
Doa ini dibaca pagi dan petang, Abu Umamah pun mendapatkan jalan membebaskan dirinya dari impitan utang. (HR Abu Said).
Rasulullah SAW tidak suka umatnya berutang kecuali terpaksa, karena utang membuat sedih di malam hari dan hina di siang hari. Beliau pernah menolak mensalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan utang sedang untuk pembayarnya tidak ada.
Dibolehkan berutang jika terpaksa, tetapi utang jangan dijadikan hobi. Dewasa ini dunia perekonomian menjerat masyarakat kepada utang, kemudahan-kemudahan untuk berutang terbuka lebar, sehingga seseorang ketika berutang merasa mendapat (keuntungan) tetapi setelah membayar, merasa kehilangan.
Betapa banyak bank ditimpa kredit macet. Dalam Islam dianjurkan tata krama berutang; bahwa bila Anda berutang karena terpaksa jangan pernah tidak mencatat. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (QS Al-Baqarah, 282).
Bila Anda berutang, jangan pernah berniat tidak melunasi hutang. Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang berutang, sedang dia berniat tidak melunasi utangnya, maka dia akan bertemu Allah sebagai pencuri” (HR Ibnu Majah).
Seharusnya Anda punya rasa takut jika tidak bayar utang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga. Nabi SAW bersabda, “Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali utang” (HR Muslim).
Anda jangan merasa tenang kalau masih punya utang, sebab barang siapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham, demikian peringatan Rasulullah SAW. (HR Ibnu Majah).
Bila Anda sudah mempunyai uang untuk membayar, maka jangan pernah menundanya. karena menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi)
Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar utang. Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran utang.” (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi).
Disamping itu, jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran utang, karena Allah Azza wa Jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi utang.” (HR An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Dalam pada itu jangan pernah meremehkan utang meskipun sedikit. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya sampai utangnya dibayarkan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Bila Anda tidak mempunyai pembayarannya, jangan Anda pernah berbohong kepada pihak yang memberi utang, karena “Sesungguhnya, ketika seseorang berutang, maka bila berbicara dia akan dusta dan bila berjanji dia akan ingkar.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dan jangan pula berjanji jika tidak mampu memenuhinya. Allah SWT berfirman, “…Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban…” (QS Al-Israa’, 34).
Jangan pernah lupa akan kebaikan orang yang meminjami Anda, balaslah kebaikan mereka dengan mendoakan kebaikan. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. jika engkau tidak menemukan apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya sampai engaku menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya.” (HR An-Nasa’i dan Abu Dawud).
Entahlah, siapakah yang bertanggung jawab akan utang-utang negara yang menumpuk sejuta kian. (*)