FIKRAH

Kesabaran Rasulku

Dalam persepsi Islam, ada tiga macam sabar; Sabar untuk taat, sabar meninggalkan maksiat dan sabar menghadapi cobaan.

Editor: Elpianur Achmad
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Sabar adalah tahan menghadapi cobaan. Dalam persepsi Islam, ada tiga macam sabar; Sabar untuk taat, sabar meninggalkan maksiat dan sabar menghadapi cobaan. Bagi Nabi SAW tidak ada sabar meninggalkan maksiat; yang ada sabar menghadapi cobaan; beliau menempati martabat Ulul-Azmi tertinggi. Taat sendiri beliau tempatkan pada posisi syukur, afalaa akuunu ‘abdan-syakuura.

Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW berdiri di bukit Shafa memanggil penduduk Makkah. Banyak yang datang ingin tahu, apakah gerangan yang terjadi. Beliau berseru, “Seandainya aku katakan di balik gunung sana ada pasukan berkuda hendak menyerang kota Makkah, apakah kalian percaya?”

Semua menjawab, “Ya percaya, kami tidak pernah menemukan kamu berbohong.”

Nabi SAW berkata lagi, “Aku telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul; Aku peringatkan adanya azab Allah di hari akhirat, tidak ada yang selamat kecuali mengucapkan kalimat La ilaha illalah Muhammadur Rasulullah.” Semua diam, tidak ada yang mendustakan.

Berdirilah Abu Lahab menunjuk muka Nabi SAW seraya berucap, “Celaka kau Muhammad, hanya untuk inikah kami dikumpulkan.”

Nabi SAW bersabar. Allah SWT menurunkan surah al-Lahab, bukan Muhammad yang celaka tetapi kedua tangan Abu Lahab dan sunggah celaka.

Lebih tiga tahun lamanya kuffar Quraisy memblokade Nabi SAW dan umatnya, di suatu kawasan yang disebut Syi’ib Amir. Piagam berisikan larangan kontak digantung di dinding Ka’bah.

Kelaparan terjadi, dan umat Islam terpaksa hanya memakan rumput-rumputan. Nabi SAW dan umat Islam sabar. Perjanjian itu kemudian dibatalkan lewat tokoh-tokoh Makkah lainnya, yang merasa hal itu tidak adil. Piagam perjanjian diturunkan, ternyata semua kalimatnya habis dimakan rayap kecuali kalimat bismikallahumma.

Abu Thalib sedang menghadapi sakratal-maut. Nabi SAW memintanya agar mengucapkan: la ilaha illallah. Ia menolak karena pengaruh Abu Jahl dan Ibnu Abi Umayyah, dua kafir Quraisy yang hadir waktu itu.

Kata keduanya,“Abu Thalib, apakah kau tinggalkan agama nenek moyangmu.”

Nabi SAW berkata lagi, “Ayahku, katakan Allah sudah cukup, aku akan bersaksi di hadapan Allah bahwa kau telah beriman.”

Ia menolak dan meninggal dunia tanpa kalimat tauhid. Nabi SAW bersabar akan keadaan ini.

Nabi SAW pergi ke Taif menyampaikan dakwah Islam, tapi ditolak mentah-mentah. Seorang tokoh Taif berkata, ”Apakah Allah tidak menemukan orang lain untuk diangkat menjadi rasul?” Beliau diusir dengan lemparan batu.

Dalam perjalanan pulang, beliau berteduh di bawah pohon. Jibril AS menawarkan, apakah Nabi SAW mau gunung-gunung di negeri itu diangkat ke langit kemudian dijatuhkan kepada penduduk Taif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved