Suara Rekan

Capres Bisa Berubah

Pendukung Jokowi sangat solid, yakni PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, Hanura. Sedang koalisinya Prabowo terdiri

Capres Bisa Berubah
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

DUA kubu yang akan berebut kursi RI-1, kubu Joko Widodo dan kubu Prabowo Subianto, kini sama-sama kesulitan mencari calon wakil presiden. Bedanya yang satu tenang, sedang yang lain terus bergemuruh bagai ombak di lautan yang tiap kali sudah sampai di pantai kemudian ke tengah lagi, gemuruh lagi.
Pendukung Jokowi sangat solid, yakni PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, Hanura. Sedang koalisinya Prabowo terdiri atas Gerindra, PKS, PAN dan terakhir Demokrat.

Jujur saja semua partai koalisi berharap kadernya bisa jadi cawapres. Ketua Umum Golkar Erlangga Hartarto sudah lama disebut-sebut sebagai bakal cawapresnya Jokowi. Ketua Umum PKB Muahaimin Iskandar bahkan sudah mengumumkan lewat berbagai baliho sebagai cawapres, tapi tak disebut siapa presidennya. Terakhir dia membuat singkatan Jomin (Joko Widodo-Muhaimin). Partai yang lain meski kans nya tipis juga masih berharap. Tapi mereka tenang, tidak ada gejolak, tidak ada lobi-lobi, tidak ada tawar menawar.
Sebaliknya di kubu Prabowo, berita mengenai capres/cawapres terus menghiasi halaman media. Belum ada titik temu siapa yang akan jadi cawapres, karena semua anggota koalisi kukuh menyodorkan calonnya dan merasa paling berhak dipilih. PKS sebagai koalisi setianya Gerindra sudah menyodorkan 10 nama untuk mendampingi Prabowo. PAN menyodorkan Ketua Umumnya Zulkifli Hasan. Tapi nampaknya Prabowo masih bimbang sehingga dia melobi Demokrat.

Gayung bersambut, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menerima ajakan Prabowo dan masuk ke koalisi Gerindra. Alasannya, untuk bergabung ke kolisi Jokowi terhalang oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang hubungannya belum cair. "Tidak ada halangan apapun dari Bu Mega," kata tokoh PDIP Aria Bima dalam sebuah talk show. Sejumlah pihak menilai SBY tengah memainkan jurus "terzolimi".

Masuknya Demokrat nampaknya dicurigai akan mengambil porsi PKS. Sebab sebelumnya Pertemuan Ulama dan Tokoh Nasional Forum Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) sudah mengerucutkan 10 nama menjadi dua nama calon pendamping Prabowo, yakni Salim Segaf Al-Jufri (Ketua Majelis Syuro PKS) dan ustadz Abdul Somad Batubara. Prabowo sudah menerima rekomendasi itu.

Salim Segaf mengakui masalah cawapres akan disepakati bersama, namun dia juga mengingatkan akan rekomendasi di atas. Sementara itu Sekjen PKS Mustafa Kamal mengatakan, jika koalisi menghormati hasil Forum Ijtima Ulama, seharusnya Prabowo tidak perlu mencari opsi cawapres lain (Kompas 31/7/2018).
Sementara itu Prabowo mengatakan, dalam mekanisme politik kita, keputusan akhir ada di partai. "Coba kita pelajari hasil rekomendasi ulama itu klausul demi klausul. Masih ada klausul bahwa dinamika politik masih akan dipertimbangkan," katanya.

***
Apa sebenarnya yang masih akan terjadi dengan koalisi Prabowo. Meski SBY mengatakan tidak minta jabatan wapres untuk putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tapi sumber valid dari Partai Demokrat menyatakan bahwa AHY akan mendampingi Prabowo. Kehadiran Demokrat harus dengan imbalan cawapres.
Para petinggi PKS juga menaruh curiga dengan manuver SBY. Pertarungan ini bisa berbuntut panjang dan memecah koalisi PKS dan Gerindra yang sudah terbangun lama. Bisa jadi ada anggota koalisi yang akan hengkang. Kalau itu PKS berarti runtuhlah bangunan koalisi Prabowo dan ini bisa mengurangi kekuatan secara signifikan.

Para pengamat menyatakan, untuk bikin poros baru juga sulit karena PKS hanya punya 6,79 persen suara atau 40 kursi DPR jauh dari ambang batas 20 persen. Ditambah dengan PAN pun masih jauh karena hanya kisaran 13 persen saja. Kecuali kalau SBY dapat tawaran lebih menarik untuk bergabung, semisal RI-1 buat AHY, tinggallah Prabowo sendirian. Bisa saja itu itu terjadi.

Meski dalam pertemuan akhir dengan Prabowo SBY tidak menyatakan akan mendorong puteranya menjadi cawapres, tapi orang tahu SBY sebenarnya ingin mencarikan "pekerjaan" anaknya. Pertama menjadi calon Gubernur DKI dan kini untuk menjadi cawapres. George W Bush menjadi Presiden ke 43 Amerika Serikat mewarisi ayahnya, George HW Bush (Presiden ke 41), memulai dari bawah. Jadi politisi dulu, kemudian Gubernur Florida. Jadi tidak "ujuk-ujuk".

Peta cawapres ternyata masih buram. Dari koalisi Jokowi, Jusuf Kalla yang akan diajukan kalau Mahkamah Konstitusi mengabulkan uji materi Undang-Undang Pemilu tentang masa jabatan presiden/wapres. Kalau gagal sudah ada penggantinya. Di Kubu Prabowo masih penuh teka-teki, bahkan capresnya pun bisa berubah.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved