Fikrah
Cinta Allah Cinta Makhluk-Nya
ISLAM satu-satunya agama (yang diridhai) di sisi Allah. (QS Ali-Imran 19). Islam mengatur tata hubungan dengan Allah
Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel
ISLAM satu-satunya agama (yang diridhai) di sisi Allah. (QS Ali-Imran 19). Islam mengatur tata hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan tata hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas), antara keduanya harus seimbang, Allah SWT berfirman, mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia ... (QS Ali-Imran 112).
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Mukasyafah al-Qulub menceritakan tentang Abu bin Hasyim seorang ahli ibadah, khususnya tahajud, bertahun-tahun tidak pernah absen melakukannya. Suatu malam saat hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di tepi sumurnya; ternyata dia seorang malaikat.
Abu bangga kedatangan tamu malaikat mulia itu, lalu bertanya. Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Dia menjawab, Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah. Melihat malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya;
Wahai malaikat, buku apakah yang kamu bawa?
Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah, jawabnya.
Mendengar jawaban itu, Abu Hasyim berharap dalam hati namanya ada di situ, dia bertanya kembali. Wahai malaikat, adakah namaku di situ? Abu Hasyim yakin namanya tercatat di situ, mengingat ibadahnya tidak pernah putus setiap malam mengerjakan tahajud, berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam.
Baiklah, aku buka, kata malaikat. Ternyata nama Abu bin Hasyim, tidak ditemukan di dalamnya. Tidak percaya, Abu meminta malaikat mencarinya sekali lagi. Betul, namamu tidak ada di dalam buku ini!
Abu pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan malaikat.
Dia menangis sejadi-jadinya. Alangkah ruginya diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak termasuk golongan para hamba pecinta Allah, ratapnya.
Melihat itu, malaikat berkata, wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, berwudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam tidur, tapi aku dilarang menulis namamu.
Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya? tanya Abu bin Hasyim.
Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi asyik beribadah hanya memikirkan dirimu sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh, mendoakan merekapun tidak? kata malaikat itu.
Abu bin Hasyim tersadar hubungan ibadah manusia bukan hanya hablun minallâh (penataan hubungan yang baik dengan Allah), tetapi juga hablum-minannas (penataan hubungan santun dengan sesama manusia).
Apa yang membuat Allah senang? Nabi Musa AS, pernah bertanya kepada Allah, “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan sejumlah ibadah, berupa salat, zikir, puasa; manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?”
Allah SWT menjawab, Salatmu itu untukmu sendiri, dengannya engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu hanya untukmu sendiri, dengannya hatimu menjadi tenang. Puasamu untukmu sendiri, dengannya kamu menundukkan hawa nafsumu sendiri.”
Nabi Musa AS bertanya lagi, Lalu apa yang membuat-Mu senangYa Allah?”
Allah SWT menjawab, Yang membuat-Ku senang adalah sedekah, infak, dan zakat serta perbuatan-perbuatan baikmu terhadap para hamba-Ku, karena saat engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir di sampingnya.
Di posisi manakah kita? kita sendiri yang bisa menjawabnya. Bila kita hanya sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, tandanya kita hanya mencintai diri kita sendiri, bukan Allah SWT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-naparin_20171007_111506.jpg)