Tajuk

Nasib Petani Karet

Merosotnya harga penjualan karet, membuat para petani hanya mampu mencukupi biaya untuk bertahan hidup.

Nasib Petani Karet
BPost Cetak
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kenyataan pahit sedang menimpa para petani karet di Banua. Niat mereka meraup untung dari ‘empuknya’ getah pohon ini, kini tak bisa berharap banyak akibat harga di pasaran tak juga beranjak naik sejak beberapa tahun lalu.

Merosotnya harga penjualan karet, membuat para petani hanya mampu mencukupi biaya untuk bertahan hidup. Padahal, berkebun karet merupakan sumber penghasilan utama mereka.

Akibatnya, tak sedikit yang memilih berhenti mengelola kebun mereka, dan memilih bekerja di sektor lain yang mampu mendatangkan uang lebih banyak.

Alternatif lain, beberapa petani memilih menjual lahan mereka ke perusahaan tambang atau pihak ketiga, yang akan menjadikan lahan mereka menjadi areal tambang batu bara karena lokasinya memang berdekatan dengan tambang perusahaan tersebut.

Baca: Perlu Biaya Kuliah Anak, Bolehkah Ambil Sebagian Uang Saldo JHT

Baca: Resmi Dirilis, Begini Garangnya Honda ADV150, Harganya Mulai Rp 33,5 Juta

Baca: Fotonya Terlalu Cantik, Caleg Perempuan Dari NTB Ini Digugat Pesaingnya, Begini Curhatan Evi

Pilihan mengubah lahan perkebunan karet menjadi bidang usaha lain tak hanya dilakukan oleh petani saja, bahkan Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII Danau Salak, Kabupaten Banjar, yang selama ini konsentrasi bisnisnya di perkebunan karet, pun melakukan ekspansi usaha ke sektor pertambangan.

Tidak hanya pertambangan batu bara, PTPN XIII juga akan mengonversi lahan miliknya untuk menjadi perkebunan kelapa sawit, karena beralasan sektor perkebunan ini lebih menjanjikan dibanding perkebunan karet yang selama ini mereka tekuni.

Kalau sebuah perusahaan pelat merah seperti PTPN saja mengubah haluan bisnisnya dari karet ke bidang lain, bagaimana nasib petani karet yang hanya memiliki modal seadanya? Tentu perlu bantuan semua pihak agar mereka bisa bertahan.

Salah satunya bisa mengandalkan instansi seperti Dinas Pertanian. Karena mereka lah yang bisa memberikan pengetahuan bagaimana meningkatkan kualitas produksi karena yang selama ini diolah petani.

Logikanya, kalau kualitas karet yang dihasilkan lebih bagus, tentu harga jual yang didapat petani juga bakal meningkat. Petani tentu tak lagi berkutat pada biaya produksi yang tak tertutupi oleh harga jual karet olahannya.

Baca: Oknum Guru Cabul yang Sering Berbuat Tak Senonoh Saat Lihat Bule Seksi di Yogya Ditangkap Polisi

Baca: Sejumlah Wilayah Dilanda Dingin Ekstrem, BMKG Sebut Puncaknya Terjadi pada Agustus

Tentu upaya mengangkat harga karet di tingkat petani tak bisa diserahkan ke instansi terkait, sikap dan perilaku petani saat mengolah karet produksinya juga memerlukan penanganan tersendiri.

Pasalnya, keinginan memperoleh uang secara cepat dari hasil kebun karetnya bisa jadi penyebab petani tersebut enggan mengolah hasil kebunnya terlebih dahulu.

Kalau ini terjadi, niat meningkatkan harga jual karet pun bakal gagal total. Padahal, semua usaha perlu kesabaran agar bisa meraih hasil yang lebih baik. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved