BPost Cetak
Wakil Rakyat
Selasa 1 Oktober 2019 anggota legislatif periode 2019-2024 dilantik.Seperti biasa rakyat selalu menuntut wakilnya memperjuangkan kepentingan rakyat
Ini tidak baik dalam kehidupan bernegara, jadi tetap harus dipikirkan agar KPK tidak menjadi kekuatan baru yang tidak bisa disentuh dalam tatanan politik. Tapi bukan berarti dipreteli wewenangnya.
Sekarang demo memang lagi menjadi tren yang kekuatannya melebihi meriam. Diawali tindakan rasis di asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang membuat warga Papua tersinggung. Demo orang Papua pun menyebar di mana-mana di Papua. Tak sedikit fasilitas negara dibakar, petugas dan warga cedera.
Anehnya setelah masalahnya dingin, masalah rasisme mereda, ada lagi demo di Wamena yang jauh lebih besar. Lebih 30 orang tewas, ribuan warga pendatang kini mengungsi atau kembali ke daeraha asal. Pertanyaannya, ini demo yang mana lagi.
Penduduk asli Papua sendiri justru banyak menyelamatkan warga pendatang sehingga tidak mungkin ini demonya orang Papua.
Sudah diduga ada kelompok lain yang memanfaatkan situasi ini. Buktinya Beny Wenda, pelarian Papua yang kini bermukim di Inggris, ditolak masuk dalam Sidang Umum PBB untuk menyuarakan gerakan mereka, sebab PBB hanya mengakui Papua dan Papua Barat bagian NKRI.
Demo mahasiswa dan demo Papua tidak ada hubungannya. Mahasiswa hanya mengambil momen demo Papua untuk mendesakkan aspirasinya kepada pemerintah.
Tapi kedua aksi demo ini sama-sama ditunggangi oleh kelompok tertentu yang menjadikan ketenteraman negeri terusik. Wakil rakyat yang baru harus belajar dari pengalaman ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/hampir-setengah-anggota-dpr-dan-dpd-tak-menghadiri-sidang-paripurna-mpr.jpg)